PEKANBARU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau mencatat bahwa sebanyak 6.000 penduduk dari beberapa daerah di provinsi tersebut telah mengungsi karena dampak banjir pada beberapa minggu terakhir ini.
Kepala BPBD Riau, M. Edy Afrizal, menyatakan bahwa warga yang mengungsi berasal dari Kabupaten Rokan Hilir, Kepulauan Meranti, dan Kota Dumai. Namun, belum ada catatan mengenai pengungsi dari kabupaten dan kota lain yang juga terdampak banjir.
Edy Afrizal menjelaskan bahwa jumlah korban banjir yang mengungsi terus bertambah, dan total warga provinsi Riau yang mengungsi akibat banjir kini mencapai 6.467 jiwa.
Kabupaten Rokan Hilir menjadi daerah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yaitu sebanyak 3.992 warga yang harus meninggalkan rumah mereka karena terendam banjir.
“Di Kabupaten Kepulauan Meranti, tercatat ada 2.240 jiwa yang mengungsi karena dampak banjir. Sedangkan di Kabupaten Bengkalis, terdapat 191 jiwa, dan di Kota Dumai, 44 orang. Kami turut berduka karena banjir telah menyebabkan empat orang meninggal. Sebanyak 4.686 kepala keluarga (KK) atau 18.744 jiwa warga Riau terdampak,” ujar Edy.
Banjir telah menyebabkan genangan air di ribuan rumah dan fasilitas umum, termasuk jalan, masjid, dan sekolah.
Sebanyak 29 SMA sederajat di Riau harus meliburkan siswanya karena ruang kelas terendam, demikian pula dengan sekolah dasar.
BPBD Provinsi Riau telah melakukan evakuasi warga, mendistribusikan bantuan logistik seperti beras, gula, sarden, selimut, kain sarung, dan air mineral. Selain itu, mereka mendirikan dapur umum dan posko pengungsian.
BPBD Riau juga telah mengajukan permohonan bantuan ke pusat agar segera diproses.
Pemerintah pusat juga turut membantu kesiapsiagaan di daerah tersebut dengan menyediakan selimut dan logistik.
“Orang tua diminta untuk terus mengawasi anak-anak yang bermain di air tergenang dan aliran air yang deras, karena banjir memiliki daya tarik bagi anak-anak untuk bermain,” tambah Edy.

