Perlu Tindakan Konkret Untuk Memastikan MEA Memberi Manfaat Merata Bagi Anggota ASEAN

Oleh : Isyraq Chauralya Balqis

JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi merupakan faktor penting dalam mengukur keberhasilan suatu negara. Setiap negara akan selalu berusaha meningkatkan pertumbuhan ekonominya dan menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai target ekonomi dan keberhasilan perekonomian dalam jangka panjang. 

Maka setiap negara perlu mengadakan kerjasama ekonomi baik bilateral maupun regional, dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat.

ASEAN di bentuk bertujuan untuk menciptakan kawasan yang damai dan bekerjasama dalam mencapai pertumbuhan ekonomi, perkembangan sosial, dan stabilitas di kawasan regional dalam wadah ASEAN. 

Kerjasama ekonomi ASEAN diarahkan pada pembentukan komunitas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), kerjasama ini bermaksud untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara.

Namun, kerjasama ekonomi antar negara-negara ASEAN pun kerap menghadapi hambatan dan tantangan dalam mencapai tujuannya.

Hambatan dan Tantangannya yang di hadapi lantaran adanya perbedaan ekonomi dan politik antar negara-negara, keterbatasan dalam infrastruktur dan informasi, serta adanya perbedaan dalam regulasi dan kebijakan.

Berikut ini beberapa hambatan yang dihadapi negara-negara ASEAN.

  • Perbedaan tingkat pembangunan ekonomi antar negara anggotanya. Negara anggota MEA memiliki tingkat pembangunan ekonomi yang beragam mulai dari negara maju seperti Singapura, hingga negara-negara berkembang seperti Laos, Kamboja dll. Perbedaan tingkat pembangunan ekonomi ini dapat menimbulkan kesenjangan yang tidak seimbang. 
  • Perbedaan regulasi dan kebijakan antar negara anggota. Setiap negara anggota pasti memiliki regulasi dan kebijakan yang berbeda-beda dalam berbagai bidang, seperti perdagangan, investasi, dan ketenagakerjaan yang dapat menimbulkan hambatan bagi arus barang, jasa, dan investasi antar negara anggota.
  • Konteks keamanan, keamanan merupakan faktor penting untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi. Akan Tetapi kawasan ASEAN masih menghadapi berbagai tantangan keamanan, seperti terorisme, dan konflik perbatasan.

Tabel diatas menggambarkan adanya perbedaan GDP (Gross Domestic Produk) dari tiap negara keanggotaan ASEAN yang mengalami kenaikan ataupun penurunan ekonomi negaranya. Dari faktor tersebut menunjukan bahwa implementasi MEA masih belum merata di seluruh negara anggotanya.

Oleh karena itu, perlu adanya tindakan yang lebih konkret untuk memastikan bahwa MEA dapat memberikan manfaat yang merata bagi seluruh negara anggotanya. MEA Dilaksanakan dengan tujuan mencapai stabilitas di kawasan ASEAN dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan taraf hidup masyarakat yang tinggal di negara-negara anggota.

Menurut data dari World Bank tidak semua negara anggota ASEAN mengalami kemerosotan ekonomi yang sama, terdapat perbedaan yang mencolok antara negara-negara anggota MEA. Filipina dan Indonesia mengalami keterpurukan ekonomi, sedangkan Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura mengalami peningkatan ekonomi. Perbedaan ekonomi ini masuk ke salah satu hambatan dalam kerjasama ASEAN.

Dilihat dari sudut pandang salah satu negara anggota, seperti Indonesia. tantangan dan hambatan terhadap MEA di Indonesia dapat menjadi persoalan. Hambatan tersebut antara lain: 

  • Pertama, mutu pendidikan tenaga kerja masih rendah. Pada februari 2014 jumlah pekerja yang berpendidikan SMP atau dibawahnya sebanyak 76,4 juta orang atau 64% dari total 118 juta pekerja di Indonesia. 
  • Kurangnya ketersediaan dan buruknya kualitas infrastruktur, kualitas barang dan jasa jadi terkena dampak negatif. Berdasarkan indeks daya saing global 2014, kualitas infrastruktur negara Indonesia masih cukup rendah jika dibanding negara maju seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei.
  • Sektor industri menderita akibat dampak impor bahan makanan mentah dan barang impor jadi. Salah satu penyebab utama hilangnya energi yang mana Indonesia masih tergolong negara berkembang jika  masih banyak barang Tiongkok yang  sampai ke Indonesia.

Jika permasalahan ini dibiarkan saja dan tidak diatasi, maka penerapan MEA tentu akan menjadi hambatan bagi domestik Indonesia.

Tantangan Indonesia adalah membuat integrasi ekonomi ASEAN lebih selaras dengan negara-negara anggota ASEAN dan non-ASEAN, bukan hanya di kawasan saja. Jika dilihat dari permasalahan domestik, terlihat bahwa hambatan yang terjadi pada kerjasama ekonomi ASEAN ini muncul dari perbedaan segi faktor negara- negara anggota, karena setiap negara anggota memiliki hambatan dan tantangan sendiri yang terjadi dalam politik domestik mereka.

Untuk mengatasi hambatan dan tantangan tersebut, negara-negara ASEAN perlu meningkatkan kerjasama dan koordinasi dalam perdagangan, investasi, dan teknologi.

Negara-negara ASEAN juga perlu memperkuat konektivitas, dan kerjasama di bidang pendidikan, supaya kerjasama ekonomi ASEAN dapat menciptakan integrasi ekonomi yang berkelanjutan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di wilayah Asia Tenggara.

Menurut laporan McKinsey pada tahun 2015, perekonomian indonesia telah tumbuh kisaran 5,0-5,2 persen dalam beberapa tahun terakhir dari pengaruh kerjasama ekonomi ASEAN.

Dalam artikel yang ditulis oleh Masyita Crystallin membahas tentang ketidakmampuan distribusi pendapatan dan partisipasi dalam perekonomian di negara-negara ASEAN, seperti Vietnam, Thailand, Indonesia, dan Filipina, terlihat bahwa kerjasama ekonomi di ASEAN telah berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan negara anggotanya, dengan fokus pada stabilitas dan pertumbuhan.

Referensi
Aulia, Amelia P. 2023. “,Kajian Sosial Mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Di Asia Tenggara.” Jurnal kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi Vol.06 (01): 11.
Budiman, Aida S. 2008. “Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), 2015: Memperkuat Sinergi ASEAN di tengah Kompetisi global.”
Umar Congge. 2015. “Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) Harapan dan Tantangan dalam Perekonomian Bangsa.” Jurnal Seminar Nasional Revolusi Mental dan kemandirian Bangsa melalui Pendidikan Ilmu Sosial dalam menghadapi MEA 2015, 102.

Tinggalkan komentar