Menuduh Hamas Melanggar Gencatan Senjata, Israel Mulai Operasi di Selatan Gaza

JAKARTA – Kepala Staf Israel Defense Forces (IDF) Letjen Herzi Halevi membenarkan, bahwa pasukannya mulai beroperasi di Gaza selatan, saat operasi darat di utara wilayah kantong tersebut terus berlanjut.

Bentrokan bersenjata kembali pecah di Gaza pekan lalu, setelah Israel menuduh kelompok militan Palestina Hamas tidak menepati kesepakatan dan melanggar gencatan senjata yang sudah berlangsung selama seminggu sebelumnya yang mampu membebaskan sandera dan tahanan di kedua belah pihak, hingga memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan.

Berbicara kepada pasukan di Divisi Gaza di Israel selatan, Letjen Halevi mengatakan “kemarin, hari ini, kami membunuh komandan batalion (Hamas), komandan kompi dan banyak agen. Dan kemarin pagi, kami memulai tindakan yang sama di selatan Jalur Gaza,” melansir The Times of Israel, Senin (4/12/2023).

“Operasi ini tidak akan kalah kuatnya dengan (operasi di Gaza utara) dan hasilnya juga tidak akan kalah,” kata Halevi.

“Komandan Hamas akan menemui IDF di mana saja,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, Israel Defense Forces (IDF) mengumumkan perluasan operasi darat pasukannya di Gaza pada Hari Ahad (3/12/2023).

“Kami mempunyai kemampuan untuk melakukannya dengan cara yang paling menyeluruh, dan sama seperti kami melakukannya dengan kekuatan dan menyeluruh di utara Jalur Gaza, kami juga melakukannya sekarang di selatan Jalur Gaza, dan kami juga melanjutkannya. untuk memperdalam pencapaian di utara Jalur Gaza,” jelas Letjen Halevi.

Diketahui, rekaman yang belum diverifikasi yang beredar online selama beberapa hari terakhir menunjukkan tank-tank Israel di Gaza selatan, utara Khan Younis. Di sisi lain, Hamas juga mengklaim telah bentrok dengan pasukan di wilayah tersebut.

Sementara, Kementerian Kesehatan di Gaza, Palestina mengatakan, ratusan tenaga kesehatan di sana tewas akibat konflik Hamas Israel, ratusan lainnya luka-luka, sementara puluhan lainnya ditahan, termasuk yang terbaru akhir pekan lalu.

Juru bicara kementerian Ashraf al-Qedra dalam konferensi pers Hari Ahad (3/12/2023) mengatakan, total 281 orang petugas kesehatan tewas dan ratusan lainnya terluka, seperti dikutip dari Anadolu, Senin (4/12/2023).

Lebih jauh dijelaskan olehnya, sekitar 56 ambulans dan fasilitas kesehatan dalam jumlah yang sama telah hancur total, sementara 20 rumah sakit tidak dapat beroperasi, serta 46 pusat perawatan primer.

Dalam kesempatan yang sama, al-Qedra menyoroti penangkapan dan penahanan tenaga medis. Terbaru, pasukan Israel menangkap empat paramedis pada Hari Sabtu meskipun mereka telah berkoordinasi sebelumnya, ketika mereka menuju ke utara dari Khan Yunis di selatan untuk mengevakuasi korban luka.

“Yang ditahan antara lain direktur layanan ambulans di Gaza selatan, Anis al-Astal, dan paramedis Muhammad Abu Samak, Hamdan Anaba dan Abdel Karim Abu Ghali,” jelasnya.

Israel masih menahan 35 profesional kesehatan dari Jalur Gaza, termasuk Mohammed Abu Selmiya, direktur umum Kompleks Medis Al-Shifa, “dalam kondisi yang keras dan diinterogasi di bawah penyiksaan, kelaparan serta kehausan,” tambah pejabat itu.

Ia juga membenarkan bahwa sejak 7 Oktober, sebanyak 403 orang yang terluka dan sakit telah meninggalkan Jalur Gaza melalui perbatasan Rafah dengan Mesir untuk menerima perawatan di luar negeri. Sementara, lebih dari 1,5 juta pengungsi berada di tempat penampungan.

Menyerukan “tindakan segera” untuk membangun koridor kemanusiaan untuk pasokan medis, bahan bakar, rumah sakit lapangan, tim medis dan evakuasi ratusan orang yang terluka, al-Qedra mendesak PBB dan Organisasi Kesehatan Dunia untuk memberikan tekanan pada Israel untuk “segera melakukan tindakan darurat.” lepaskan profesional kesehatan kami.”

Dia menekankan perlunya “menemukan mekanisme yang efektif dan mendesak untuk mencegah bencana kemanusiaan dan kesehatan bagi lebih dari 1,5 juta pengungsi di tempat penampungan.”

“Korban luka mengalami pendarahan hingga meninggal karena kurangnya layanan kesehatan yang diperlukan di Gaza utara, sebagai akibat dari pendudukan Israel yang menargetkan rumah sakit yang tersisa agar tidak dapat digunakan lagi dan memaksa penduduk untuk mengungsi,” jelas al-Qedra.

“Pendudukan Israel ingin mengakhiri kehadiran warga Palestina di Jalur Gaza, baik dengan pembunuhan atau pemindahan paksa akibat pemboman. Mereka telah memperluas penargetan warga sipil setelah gencatan senjata, sehingga tidak ada satu pun wilayah di Jalur Gaza yang tidak dibombardir,” tandasnya.

Diketahui, Israel kembali membombardir Gaza setelah gencatan senjata dengan Hamas yang telah berlangsung selama seminggu berakhir pekan lalu.

Tinggalkan komentar