BEKASI – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto bakal mencalonkan diri pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2024. Rencana pencalonan itu telah dideklarasikan Prabowo dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Gerindra yang digelar 12 Agustus 2023 kemarin.
Sebelumnya Pemilu Presiden 2009 menjadi ajang pilpres perdana bagi Prabowo Subianto,
Hengkang dari Golkar, Prabowo membentuk partai sendiri yang ia pimpin hingga kini, Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).
Dengan kendaraan barunya, mulanya Prabowo hendak mencalonkan diri sebagai presiden dengan menggandeng Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) saat itu, Soetrisno Bachir, sebagai calon wakil presiden (cawapres).
Namun, pasangan ini sudah layu sebelum berkembang karena tak mampu memenuhi persyaratan kursi dukungan.
Prabowo lantas berganti haluan dengan merapat ke koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang mengusung Megawati Soekarnoputri sebagai capres.
Setelah melalui perundingan yang alot, Prabowo akhirnya legawa dipasangkan sebagai calon wakil presiden Megawati.

Namun, pasangan ini gagal meraih kemenangan. Megawati-Prabowo harus puas dengan perolehan 32.548.105 suara atau 26,79 persen.
Pertarungan kala itu dimenangkan oleh pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Budiono yang mengantongi 73.874.562 suara atau 60,8 persen.
Sementara, pasangan Jusuf Kalla-Wiranto berada di urutan buntut dengan perolehan 15.081.814 suara atau 12,41 persen.
Lima tahun berlalu, Prabowo kembali mencoba peruntungannya pada Pilpres 2014.
Saat itu, Gerindra sudah tumbuh jauh lebih besar dibandingkan tahun 2009. Partai berlambang kepala garuda itu berhasil memperoleh 73 kursi pada Pemilu 2014, meningkat pesat dari sebelumnya 26 kursi.
Dengan daya tawar yang lebih besar, Prabowo berhasil mewujudkan keinginannya mencalonkan diri sebagai presiden.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Gerindra masih mesra dengan PAN sehingga menggandeng Hatta Rajasa yang kala itu menjabat sebagai ketua umum partai berlambang matahari putih tersebut.
Prabowo-Hatta juga mendapat dukungan dari Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Demokrat, dan Partai Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Pasangan capres dan cawapres itu hanya punya pesaing tunggal, yakni Joko Widodo-Jusuf Kalla yang diusung oleh PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Nasdem, dan Hanura.
Namun, lagi-lagi Prabowo terpaksa menelan kekalahan. Dengan mengantongi 62.576.444 suara atau 46,85 persen, Prabowo-Hatta kalah dari Jokowi-Kalla.
Di pencalonan pertamanya sebagai presiden saat itu, Jokowi berhasil mendulang 70.997.833 suara atau 53,15 persen.

Tak menyerah, Prabowo kembali maju ke gelanggang Pilpres 2019.
Pada pencalonan ketiganya, dia menggandeng Sandiaga Uno yang saat itu masih menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Sandiaga juga merupakan rekan satu partai Prabowo di Gerindra yang menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina partai.
Selain Gerindra, pasangan Prabowo-Sandiaga diusung oleh tiga partai lainnya yakni Demokrat, PKS, dan PAN.

Saat itu, Prabowo lagi-lagi harus berhadapan dengan Jokowi. Petahana tersebut menggandeng Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin.
Pasangan Jokowi-Ma’ruf diusung oleh PDI-P, Golkar, PKB, Nasdem, PPP, dan Hanura.
Pilpres 2019 pun menjadi momen ketiga Prabowo menelan kekalahan di pilpres. Untuk kedua kalinya, Prabowo gagal mengungguli Jokowi.
Prabowo-Sandiaga saat itu mendapat suara 68.650.239 atau 44,5 persen, tertinggal jauh dari Jokowi-Ma’ruf yang mengantongi 85.607.362 suara atau 55,5 persen.
Kendati gagal, tak lama Gerindra merapat ke pemerintahan Jokowi-Ma’ruf. Prabowo bahkan dipercaya Jokowi sebagai Menteri Pertahanan.
Setahun Kabinet Indonesia Maju berjalan atau akhir Desember 2020, Sandiaga Uno juga bergabung dengan pemerintah dan ditunjuk sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) menggantikan Wishnutama.
Dan pada Pilpres 2024 Prabowo benar-benar mencalonkan diri lagi, maka jejaknya sebagai wajah lama di pilpres bisa menjadi kelemahannya.
Tak menutup kemungkinan masyarakat jenuh dengan pencalonan Prabowo.
Dari sisi branding, personal branding, beliau bukan wajah fresh. Jadi sosok yang sudah berkali-kali maju dan yang jadi lawan pertamanya adalah kejenuhan dari masyarakat.
Untuk di ketahui, Prabowo lahir pada 17 Oktober 1951 di Jakarta. Terlahir dari keluarga yang mayoritas beragama non muslim, Prabowo kecil pun mengikuti jejak para orangtuanya. Beliau yang dulu bersekolah di luar negeri pun menjadikan pribadinya berpolah layaknya orang luar negeri.
Ayahnya yang diketahui bernama Soemitro Djojohadikusumo adalah orang yang sudah berhasil menjadikan Prabowo seorang politikus, pengusaha dan Perwira TNI.

Victoria Institution adalah nama sekolah dasarnya di Malaysia yang beliau rampungkan dalam kurun waktu tiga tahun. Dan menamatkan pendidikan SMA di American School London. Setelah itu barulah dia melanjutkan pendidikan AKMIL di Magelang.
Menilik sedikit masa lalu Prabowo Subianto, mengapa ia hidup berpindah-pindah dari Singapura hingga ke Amerika, ternyata memiliki cerita tersendiri. Diketahui, Ayahnya yang dituding oleh Presiden Soekarno terlibat gerakan pemberontakan PRRI di Sumatera tahun 1958, menjadikan ayah dari Prabowo ini memboyong segenap keluarganya ke luar negeri.
Tak lama berselang keluarganya tinggal di Singapura, masalah politik di negeri Singapura ini mengalami sedikit gejolak, yaitu pihak Singapura memilih hubungan baiknya dengan Indonesia. Hal itulah yang kemudian menjadi lantaran keluarga Prabowo kembali pindah ke Hongkong.
Selain Hongkong, banyak negara-negara lain yang disinggahi keluarga ini seperti Malaysia, Inggris dan Amerika. Hal ini dilakukan ayah Prabowo semata-mata untuk menghindari balas dendam rakyat terhadap apa yang dia lakukan terkait keterlibatannya pada gerakan pemberontakan yang berujung tumpah darah masyarakat Indonesia.
Perlu diketahui peristiwa itu tercatat sebagai peristiwa kelam yang tak patut dilakukan oleh seorang pejabat.
Itulah tadi sekelumit perjalanan pendidikan serta kehidupan Prabowo.
Berbicara tentang agama Prabowo, masih banyak kabar yang simpang siur, ada yang mengatakan dirinya Islam setelah proses mualaf, ada pula yang mengatakan dirinya muslim sejak kecil, bahkan ada yang mengatakan dirinya masih non-Islam.
Ada pula yang mengatakan bahwa keterlibatannya dalam Pilpres lah yang membuatnya masuk Islam. Hal ini dimaksudkan agar dirinya dapat menarik simpatik warga muslim untuk memilihnya sebagai Presiden di periode mendatang.
Namun, semua itu masih sebuah dugaan. Kebenaran tentang apa agama Prabowo sejatinya hanya pak Prabowo Subianto lah yang tahu.
Tapi, jika ditelusur dari keturunan dan kalangan keluarganya, Prabowo ini berasal dari keluarga yang mayoritas non-muslim. Jika benar demikian, maka mengapa muslim di Indonesia masih mengelu–elukan beliau yang status agamanya masih disangsikan? Mungkin butuh kesadaran lebih bagi mereka. Agar lebih paham dan mengenal siapa sosok yang didambakannya untuk menjadi seorang pemimpin negara.
Mencuatnya kabar bahwa Prabowo adalah kalangan orang non-muslim juga diiyakan oleh sejumlah keluarganya yang menganut agama katolik. Dilihat dari nama Ibundanya yakni Marie Siregar, dapat dipastikan jika ibundanya adalah beragama non-muslim. Kedua adiknya pun mengikuti jejak ibundanya yaitu menganut agama Katolik. Lain dengan Prabowo yang mengikuti ayahnya yang memang berasal dari keluarga muslim. Namun, karena Prabowo dibesarkan oleh tangan ibunda, maka tidak menutup kemungkinan dirinya mendapatkan sentuhan–sentuhan rohani kristiani.
Itulah mengapa keislamannya tidak begitu kental di jiwanya, malahan, dirinya dinilai lebih condong ke Khatolik. Apalagi, menilik masa lalunya yang sempat tinggal di negara–negara yang notabene bukan negara muslim. Bisa jadi, walaupun hanya sedikit Prabowo ini pola hidupnya mengikuti orang luar negeri.
Memang sejatinya, masalah agama sebenarnya tidak baik dicampur baurkan ke dalam ranah politik. Karena pemelukan suatu agama merupakan hak asasi manusia.
Namun, Prabowo sendiri mungkin selalu cemas di setiap pencalonan dirinya sebagai Capres akan tidak mendapat banyak dukungan dari masyarakat Indonesia yang penduduk mayoritasnya adalah muslim. Sehingga tak menutup kemungkinan masyarakat akan memilih pemimpin yang juga muslim dan amanah.
Jadi, masyarakat menyoroti Prabowo menetapkan dirinya sebagai muslim dengan alasan tersebut. Agar dirinya mendapat banyak suara di Pilpres.
Jika benar kondisinya sedemikian rupa, lantas mengapa masih banyak muslim yang mendukungnya? Bukankah muslim yang baik harus mengangkat pemimpin yang berasal dari muslim juga? Yang kepastian tentang kemuslimannya tidak diragukan serta mengerti dan paham akan Islam? Jika umat Islam sendiri sudah tidak mengindahkan adab memilih pemimpin yang benar.
lantas bagaimana kejayaan suatu negara yang notabene adalah negara Islam dapat maju pesat jika dalam memilih pemimpin saja mereka sudah tidak konsisten.
Menyambung kaidah memilih pemimpin dalam ajaran Islam tentunya disyaratkan pemimpinnya memiliki jiwa agama yang kuat, yang paham akan aturan dan berjiwa kepemimpinan sesuai keteladanan yang baik.
Maka, diharapkan muslim yang cerdas juga menuruti kaidah ini untuk mendapatkan pemimpin yang sesuai dengan kriteria umat Islam. Bukan pemimpin yang asal muslim di catatan sipil, namun nol besar terhadap pengetahuan agama.

