JAKARTA – Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh, mendorong warga Palestina pada hari Sabtu.(14/10/2023) untuk menolak opsi “pengungsian” dari Jalur Gaza atau meninggalkan kantong wilayah yang terkepung menuju Mesir.
Ini diungkapkannya merespons serangan udara Israel dan seruan untuk mengungsi.
Dalam pidatonya yang disiarkan di televisi, pemimpin yang berbasis di Qatar itu menggambarkan serangan besar-besaran yang menargetkan komunitas Israel dekat perbatasan Gaza pada tanggal 7 Oktober sebagai “serangan strategis” yang akan membantu dalam “pembebasan kami.”
Sejak kelompok Hamas menyerang wilayah selatan Israel, lebih dari 1.300 orang telah tewas di Israel, termasuk warga sipil dan pasukan keamanan, sementara sekitar 120 orang telah ditawan oleh pejabat Israel.
Israel telah melancarkan serangan udara dan tembakan artileri di Gaza, yang telah merenggut setidaknya 2.215 nyawa di wilayah kantong Palestina yang terkepung selama seminggu terakhir menurut pejabat Hamas.
Tentara Israel telah menginstruksikan warga di utara Gaza untuk pindah ke selatan demi menghindari serangan.
Ismail Haniyeh menegaskan dalam pidatonya bahwa warga Palestina seharusnya tidak meninggalkan Tepi Barat, Gaza, atau pergi ke Mesir, tetapi seharusnya tetap tinggal di tanah mereka.
Dia menekankan keinginan untuk melihat pendudukan Israel pergi, sehingga mereka dapat memiliki negara mereka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya dan agar rakyat Palestina dapat kembali.
Ismail Haniyeh juga mengungkapkan tudingan terhadap Israel, menyebut tindakan mereka sebagai kejahatan perang dan mengklaim bahwa Israel menghambat bantuan kemanusiaan dari masuk ke Gaza.
Dia mencatat bahwa “kekejaman Israel merupakan kejahatan perang” dalam surat yang dia alamatkan kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.
Ismail Haniyeh juga mengutuk “pengepungan biadab yang dilakukan oleh Israel” di wilayah Palestina, dan mendesak Guterres untuk mendorong Israel agar mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza.
Sejak serangan tanggal 7 Oktober, Israel telah memberlakukan “pengepungan total” di Gaza, menghentikan pasokan listrik, air, dan bahan bakar.
Pasokan ini tidak akan dilanjutkan hingga Hamas membebaskan semua tawanan yang ditangkap dalam serangan lintas perbatasan tersebut.
Sekitar 2,4 juta warga Palestina tinggal di Jalur Gaza, yang telah lama terkepung oleh Israel sejak Hamas merebut kekuasaan di wilayah tersebut pada tahun 2007.

