Jakarta – Asian Development Bank (ADB) menyetujui pinjaman senilai USD 500 juta (sekitar Rp 7,69triliun) kepada Indonesia. Pinjaman itu untuk menunjang agenda pembangunan dan prioritas reformasi di Indonesia.
Khususnya untuk mendukung investasi, mengurangi hambatan perdagangan dan meningkatkan skala dunia usaha.
“Reformasi kebijakan akan membantu Indonesia menarik lebih banyak investasi serta mengurangi hambatan perdagangan,” kata Direktur ADB Indonesia Jiro Tominaga dalam pernyataan pers, Senin (25/9/2023).
ADB dan pemerintah Indonesia telah merancang program untuk meningkatkan daya saing, modernisasi industri dan percepatan perdagangan. Untuk itu, Indonesia sudah melakukan langkah untuk meningkatkan iklim investasi antara melakukan pembaruan Online Single-Submission (OSS).
Selain itu melakukan pendekatan berbasis risiko dengan mengintegrasikan proses di tingkat nasional, daerah dan kementerian. Juga menarik lebih banyak investasi untuk mendukung transisi ekonomi menuju perekonomian rendah karbon.
Pemerintah Indonesia telah menarik investasi asing langsung untuk manufaktur baterai kendaraan listrik. Termasuk penandatanganan lima kontrak bernilai tinggi, yang diperkirakan akan menciptakan sekitar 49.000 pekerjaan baru.
Sementara itu, untuk mengurangi hambatan perdagangan, Indonesia melaksanakan tiga sistem baru. Yakni berdasarkan Rencana Aksi Penataan Ekosistem Logistik Nasional (2020-2024).
Sedangkan untuk meningkatkan skala dunia usaha, Indonesia telah memperbaiki ekosistem kewirausahaan. Serta meningkatkan kapasitas dunia usaha agar beorientasi pada ekspor dan teknologi.
Peningkatan skala dunia usaha utamanya untuk usaha yang dimiliki kaum perempuan. Karena usaha mereka kadang tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk ikut serta dalam pengadaan pemerintah.

