Saham Perusahaan Gas Negara Diborong Lo Kheng Hong, Ditutup Menguat 0,35 Persen

Jakarta – Harga saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) atau PGN ditutup menguat 0,35 persen ke harga Rp1.440 pada perdagangan sesi pertama hari Kamis 14 September 2023.

Penguatan tersebut menambahkan performa positif pada saham PGAS dalam sepekan menjadi positif 6,27 persen secara point to point.

Meski begitu terhitung sejak awal tahun 2023 hingga saat ini harga saham PGAS masih mengakumulasikan pelemahan sebesar 18,18 persen.

Berdasarkan pergerakan saham PGAS dalam 10 sesi perdagangan terakhir, dapat dihitung pivot point (PP) pada harga saham PGAS berada pada Rp1.420.

Dengan demikian area support pertama (S1) di Rp1.360 dan level support kedua (S2) di Rp1.180. Sementara itu area resistance pertama (R1) yang dapat dicermati berada di Rp1.480 dan area resistance kedua (R2) di Rp1.560.

Penting diketahui, perhitungan teknikal tidaklah selalu tercapai, level tersebut digunakan trader dan investor jangka pendek dalam menentukan posisi entry dan exit dari suatu saham. Perhitungan ulang disertai instrumen teknikal lainnya sangatlah diperlukan.

Baru-baru saham PGAS tengah menjadi sorotan investor, pasalnya investor legendaris yang dijuluki Warren Buffet indonesia, yakni Lo Kheng Hong tengah mengonfirmasi bahwa dirinya memborong saham PGAS di level harga Rp1.100 per saham.

“Saya juga belum lama beli PGAS di Rp 1.100. Ketika saya menjual saham MBSS semuanya, ada uang kas. Saya lihat (harga) PGAS Rp 1.100, saya dorong semuanya terus naik ke Rp 1.800,” ujarnya saat dikutip dari seminar virtual yang ditayangkan di akun Youtube, dikutip Kamis (14/9/2023).

LKH menegaskan, pada dasarnya berinvestasi pada saham perusahaan BUMN dan perusahaan swasta tidak ada bedanya. Tetap sama-sama menarik sejauh fundamental perusahaannya baik dan dijalankan oleh manajemen yang mumpuni.

“Jadi sama saja kalau perusahaan BUMN yang bagus dan murah tetap saya beli, jadi tidak ada bedanya,” ucapnya.

Sementara itu dari sisi performa keuangan di semester I 2023, PGAS mengalami penurunan bottom line dengan meraih laba bersih senilai US$145,32 juta, merosot 39,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$238,56 juta.

Meski demikian, PGAS berhasil mengantongi pendapatan sebesar US$1,78 miliar. Angka itu meningkat 2,30 persen dibandingkan US$1,74 miliar pada semester I-2022.

Secara rinci, segmen niaga gas bumi menjadi kontributor terbesar pada perolehan pendapatan dengan US$1,24 miliar atau 69,66 persen total pendapatan perseroan.

Lalu, penjualan gas niaga itu didapat dari pelanggan industri dan komersial sebesar US$1,22 miliar, pelanggan rumah tangga US$10,29 juta, dan SPBG senilai US$1,64 juta.

Pada pos beban, beban pokok pendapatan PGAS tercatat naik 7,63 persen secara tahunan (YoY) menjadi US$ 1,41 miliar. Laba bruto PGAS pun terpangkas 12,54 persen YoY dari US$420,90 juta menjadi US$368,11 juta pada semester I-2023.

Setelah ditambah pendapatan dan dikurangi beban lain-lain, PGAS mencatatkan laba operasi senilai US$283,53 juta. Merosot 16,54 persen dibandingkan laba operasi semester I-2022 sebesar US$339,74 juta.

Tinggalkan komentar