Banadar Lampung – Freemason adalah sebuah organisasi rahasia alias bawah tanah yang memiliki pengikut di seluruh dunia. Organisasi ini berdiri sejak ratusan tahun silam.
Tujuan utama Freemason adalah membangun persaudaraan dan pengertian bersama akan kebebasan berpikir. Secara umum tujuan-tujuan pokok Freemason beberapa di antaranya yakni; menghapus semua agama, menghapus sistem keluarga, menjadikan manusia di seluruh dunia dalam sebuah kesatuan.
Freemason juga dipercaya bertanggungjawab atas terjadinya tiga revolusi di dunia yakni Revolusi Prancis, Revolusi Amerika, dan Revolusi Industri di Inggris. Tak cuma itu, konon kabarnya Freemason juga ikut bertanggungjawab atas pecahnya Perang Dunia I. Bahkan, kematian Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln dan John F Kennedy juga dipercaya ada peran dari Freemason.
Tak cuma di luar negeri, Freemason juga ternyata ada di Indonesia. Organisasi bawah tanah dibawa ke Indonesia oleh Jacobus Cornelis Mattheus telah berkembang jauh sebelum Indonesia merdeka pada 1945.
Berikut fakta-fakta Freemason ada di Indonesia seperti diulas CIN dari berbagai sumber.
Di Indonesia, Freemason sudah ada sejak tahun 1736. Saat itu seorang Belanda bernama Jacobus Cornelis Mattheus datang ke Indonesia bersama VOC untuk berdagang di Jakarta yang saat itu masih bernama Batavia.Setelah beberapa lama tinggal di Batavia.
Jacobus Cornelis mendirikan pusat aktivitas para anggota Freemason (logi). Waktu itu organisasi hanya menerima anggota yang berasal dari warga Belanda yang beranggotakan enam orang yang berasal dari kalangan petinggi militer dan sebagian lagi para pengusaha Yahudi.
Di Tahun 1810 Gubernur Jenderal Daendels akhirnya berhasil membekukan organisasi tersebut. Namun sayang di masa kepemimpinan Daendles berakhir organisasi ini akhirnya muncul kembali dengan membentuk anggota baru dari pedagang Tiongkok dan warga pribumi terutama para ningrat Nusantara.
Perkembangan organisasi ini sangat pesat, beberapa tokoh-tokoh nasional dikabarkan pernah terlibat sebagai anggota Freemason di antaranya Raden Adipati Tirto Koesoemo, R.M. Adipati Ario Poerbo Hadiningrat dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat.
Pada tahun 1767 umumnya dianggap sebagai awal kehadiran Tarekat Mason Bebas yang terorganisir di Jawa. Selain melakukan pertemuan di loji-loji, mereka juga kerap melakukan pertemuan rahasia di kawasan Molenvliet yang kini menjadi Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk untuk membahas mengenai pendirian loji tersebut.
Loji-loji Freemason mulai banyak berkembang di Indonesia pada 1945-1950-an. Para Mason banyak membangun loji tersebut untuk berkumpul.Sejumlah pribumi saat itu ikut bergabung dalam kelompok bawah tanah ini.
Salah satu loji bangunan Freemason berada di Jalan Budi Utomo Jakarta Pusat. Bangunan itu kini menjadi Gedung Kimia Farma. Bangunan itu dibangun pada tahun 1848 sebagai tempat pertemuan anggota Freemason (Vrijmetselaar).

Dikutip dari berbagai sumber, tempat perkumpulan ini disebut De Ster in het Oosten atau Bintang di Timur. Penduduk setempat menyebut para pengunjungnya merahasiakan apa yang mereka bicarakan dan perbuat di gedung yang dihiasi dengan portikus dan pilaster dalam gaya dorik tersebut.
Para anggota Freemason kala itu menjadikan gedung megah dengan enam pilar kokoh penyangga itu sebagai rumah pemujaan yang disebut loge atau loji. Di saat-saat tertentu, para Mason kerap menggelar upacara dengan pembakaran lilin dan menggenakan pakaian aneh-aneh mirip pakaian halloween.Di gedung itu mereka menggelar ritual menyembah simbol-simbol yang melambangkan cita-cita dan pikiran tertinggi manusia.
Bahkan, beberapa aktivitasnya adalah memanggil arwah atau jin dan setan.
Gedung itu sendiri sempat menjadi lokasi digelarnya Kongres Pemuda Indonesia yang pertama yakni pada 30 April sampai 2 Mei 1926. Kini, setelah Indonesia merdeka, gedung itu kemudian diambil alih dan menjadi gedung farmasi Kimia Farma.
Selain Gedung Kimia Farma, Gedung Bappenas pada masa Belanda juga sempat dijadikan sebagai loji oleh para anggota Freemason di Indonesia. Gedung yang terletak di dekat Taman Surapati, Jakarta Pusat ini juga dikenal dengan sebutan ‘Gedung Setan.
Gedung yang pada awalnya bernama Adhuc Stat yang berarti ‘Berdiri Hingga Kini’ ini dibangun pada tahun 1880. Namun, pada tahun 1925, F.J.L. Ghijsels, seorang insinyur kelahiran Tulung Agung, Jawa Timur, mendapat tugas merenovasi gedung itu secara besar-besaran. Alhasil, wajah bangunan berubah drastis dan berubah dari lantai tunggal menjadi gedung bertingkat.

Dulu, di sisi kanan dan kiri gedung terdapat dua lambang vrijmedsclarij yang jika disambung dengan garis akan membentuk ‘Bintang David’ lambang dan simbol suci kaum Yahudi.Gedung Adhuc Stat juga disebut ‘Bintang di Timur’.

Di gedung ini para anggota Freemason kerap menggelar pertemuan dan ritual.
Di era Presiden Soekarno Freemason sempat dilarang, Bung Karno awalnya memanggil para tokoh Freemason tertinggi Hindia Belanda yang berada di Loji Adhucstat (sekarang Gedung Bappenas-Menteng) pada Maret 1950. Mereka dipanggil untuk mengklarifikasi kegiatan yang mereka lakukan di loji.

Sebab, rakyat yang saat itu mulai resah menyebut loji itu sebagai rumah setan karena karena di loji itu para Mason selalu melakukan ritual pemanggilan arwah orang mati. Namun, para Mason mengelak atas tudingan ritual pemanggilan arwah orang mati. Bung Karno tak begitu saja percaya atas dalil mereka.
Pasca-kemerdekaan, gedung ini pernah menjadi saksi sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Pada tahun 1966 Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub) menggelar sidang-sidangnya untuk mengadili para gembong Gerakan 30 September (G30S). Mereka yang diadili antara lain, tokoh PKI Nyono, Menteri Luar Negeri (Menlu) Subandrio dan Panglima AURI Laksamana Omar Dhani. Kini gedung setan telah berubah fungsi, Adhuc Stat kini menjadi Gedung Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Akhirnya pada Februari 1961, Bung Karno membubarkan dan melarang keberadaan Freemasonry di Indonesia. Pembubaran dan pelarangan tersebut dilakukan Bung Karno dengan mengeluarkan Lembaran Negara Nomor 18/1961.
Lembaran Negara ini kemudian dikuatkan oleh Keppres Nomor 264 tahun 1962 yang membubarkan dan melarang Freemasonry dan segala derivatnya seperti Rosikrusian, Moral Re-armament, Lions Club, Rotary Blub, dan Bahaisme.
Sejak itu, loji-loji mereka disita oleh negara. Namun 38 tahun kemudian, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Keppres Nomor 264/1962 tersebut dengan mengeluarkan Keppres Nomor 69 Tahun 2000 tanggal 23 Mei 2000.


