Lebanon -Foto Presiden Rusia Vladimir Putin mendekap Kitab Suci Agama Islam Al-Qur.’an beredar di Lebanon, Timur Tengah. Bahkan, baliho Putin dengan foto sama beredar tidak hanya di satu kota, tapi banyak kota di Lebanon.
Sputnik, Kantor Berita Rusia juga mengabarkan berita tersebut, Minggu (9/7/2023). Judul berita Sputnik: Billboards Featuring Putin Holding Quran Appear in Lebanese Cities.

Putin sebelumnya, merespons aksi pembakaran Al-Qur.’an yang terjadi di Stockholm, Swedia, Juni 2023.
“Di negara kami (Rusia), ini (pembakaran Al-Qur.’an) adalah kejahatan,” kata Putin dikutip dari laman aa.com.tr, Rabu (28/6/2023).
Putin juga mengatakan, itu merupakan kejahatan menurut konstitusi dan juga hukum pidana di Rusia.
“Al-Qur.’an suci bagi Umat Islam dan harus suci bagi orang lain,” ujar Putin.
Putin melakukan kunjungan kerja ke Derbent, Republik Otonomi Dagestan Federasi Rusia, pada Rabu (28/6/2023) lalu. Dikutip dari Sputnik, Putin diberikan salinan Al-Qur.’an saat mengunjungi Masjid Dzhuma di Derbent.
Sekarang, foto Putin memegang Al-Qur.’an didekap di dadanya menjadi pemandangan di sejumlah kota di Lebanon. “Penjaga dan Pelindung Agama,” bunyi tulisan pada sejumlah baliho foto Putin di Lebanon.
Pihak penyelenggara aksi, yakni Muhammad Nasruddin juga sudah memberikan pernyataan terkait baliho berfoto Putin di Lebanon. Nasruddin adalah kepala Kantor Roslivan untuk kerja sama Rusia-Lebanon.
“Presiden Rusia menunjukkan kepada dunia bagaimana agama harus diperlakukan. Dengan latar belakang pembakaran Al-Qur.’an di Swedia,” kata Nasruddin.
Sebelumnya, pembakaran Al-Qur.’an juga terjadi beberapa waktu lalu, di Kota Volgograd, Rusia. Tersangka bernama Nikita Zhuravel, dia ditahan, pada Mei 2023 lalu.
Aksi Zhuravel terekam membakar Al-Qur.’an di depan sebuah masjid. Tindakan itu memprovokasi negara bagian Chechnya dengan mayoritas penduduk beragama Islam dan berujung unjuk rasa.
Komite Investigasi Rusia menyatakan, Zhuravel sebagai terdakwa mengaku bertindak karena dibayar 10 ribu Rubel. Zhuravel mengklaim, lembaga pembayarnya adalah Badan Intelijen Ukraina.
Akibatnya, Menteri Kehakiman Rusia Konstantin Chuichenko memutuskan, Zhuravel harus dikirim menjalani hukumannya. Yaitu, di salah satu lembaga pemasyarakatan terletak di wilayah dengan mayoritas penduduk Muslim.
Walaupun, putusan perkara Zhuravel belum ditetapkan hingga sekarang oleh Otoritas Rusia.

