SURABAYA – Pengurus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Surabaya yang mengundurkan diri terus bertambah, menyusul pemecatan Ali Mahfud dalam posisinya sebagai Ketua Dewan Pempinan Cabang (DPC).
Sebanyak 11 orang calon anggota legislatif (Caleg) mengundurkan diri, termasuk Ali Mahfud. Selain itu hingga pekan lalu sudah 20 Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) yang juga mundur.
Posisi Ali digantikan Wakil Ketua DPW PPP Jatim Mujahid Ansori sebagai Plt. Ketua DPC PPP Surabaya.
Ali telah memimpin DPC PPP Surabaya sejak tahun lalu, mestinya akan berakhir tahun 2027. Ia telah membentuk PAC di 29 kecamatan hingga pembentukan ranting sebanyak 90 ranting di Surabaya.
Sementara itu, Mujahid Ansori saat dikonfirmasi wartawan mengatakan pencopotan Ali Mahfud bagian dari evaluasi rutin yang dilakukan partai kepada ketua-ketua DPC yang telah menjabat lebih dari enam bulan.
Kebijakan partai dalam melakukan evaluasi ini tidak hanya berlaku di Surabaya, melainkan berlaku bagi seluruh DPC PPP. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perlu dilanjutkan atau mana yang perlu dirombak pengurusnya. Evaluasi ini bagian dari percepatan pemenangan Pemilu 2024.
Ali Mahfud sendiri tampaknya mantap untuk mundur. “Saya sudah berkonsultasi dengan para Kyai terkait hal itu dan beliau tidak memasalahkan jika saya mundur dari PPP Surabaya,” kata Ali dikutip Antara.
Mengenai alasan pencopotan dirinya, Ali enggan menjelaskan. Ia mempersilakan alasannya langsung kepada DPP PPP. “Silakan tanya ke DPP PPP,” ujarnya.
Dikutip media, Ali menyesalkan cara DPP PPP mencopotnya tanpa meminta penjelasan (tabayyun) kepada dirinya terlebih dahulu. “Surat Plt turun mendadak Rabu kemarin, saya belum tahu penyebabnya,” kata Ali Mahfud.
Dia menyayangkan keputusan DPP PPP yang sebelumnya tidak melakukan klarifikasi kepada dirinya sebelum pencopotan. “PPP ini kan partai berazaskan Islam. Seharusnya tabayun kepada saya dulu sebelum memutuskan sesuatu,” ujarnya.
Dia menilai, mundurnya belasan bacaleg dan ketua PAC PPP Surabaya karena kecewa atas sikap DPP PPP yang tidak melakukan tabayun sebelum menetapkan kebijakan. “Informasi terakhir akan lebih banyak lagi yang mengundurkan diri dari PPP Surabaya,” ucapnya.

