Pakai Botol Minum Plastik hingga Kaleng Berisiko Kanker, Ini Penjelasannya

JAKARTA – Apakah Anda sering mengkonsumsi air minum dari botol plastik? Atau bahkan Anda menggunakan botol plastik minuman kemasan untuk digunakan berulang?

Rupanya Bisfenol A atau dikenal BPA ada di dalam plastik, khususnya botol minuman plastik dan kaleng makanan atau minuman. Sekarang sedang diperhatikan oleh dunia, karena bahan itu ada kaitannya dengan kanker.

Peneliti dan Konsultan Hematologi – Onkologi Prof Dr dr Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM menjelaskan, BPA adalah senyawa yang berasal dari karbon (carbon-based) yang ada di lingkungan dan di jaringan tubuh manusia, karena pemakaian yang terlalu banyak di dunia ini.

“Walaupun BPA tidak berwarna dan tidak larut di dalam air, namun paparan terhadap manusia memang terjadi ketika BPA lepas dari tempat makan, kaleng makanan, botol minum, dan dental sealants (penutup pasta gigi),” kata Prof Beri sapaannya, dikutip dari kultwitnya, Selasa (30/5/2023).

Hal tersebut terjadi, saat plastik atau botol yang mengandung epoxy resin dipanaskan atau berulang kali dicuci. Artinya BPA ada di seluruh dunia dan menjadi kekhawatiran karena adanya fakta bahwa BPA amat terkait dengan endocrine signaling pathways meskipun pada dosis BPA yang amat rendah.

Prof Beri jelaskan, BPA mirip estrogen dan berinteraksi dengan reseptor estrogen alfa dan beta sehingga menyebabkan perubahan pada proliferasi sel, apoptosis, ataupun migrasi dan karena itu berperan dalam terbentuknya kanker dan progresivitas dari kanker.

Pada level genetik, BPA terbukti memiliki dampak memudahkan kanker, multiple encogenic signaling pathways. “Jadi involve di pathways berbagai macam seperti STAT3, MAPK, PI3K, dan AKT,” sambung Prof Beri.

BPA itu juga berinteraksi dengan reseptor steroid, seperti reseptor androgen, dan karena itu mungkin sekali akan terkait dengan terbentuknya kanker prostat.

Lebih lanjut, BPA itu senyawa diphenyl compund yang mengandung dua hydroxyl groups. Pada posisi yang parah, membuat BPA menjadi mirip banget dengan estrogen sintetik yaitu diethylstilbestrol.

“Jadi begini, ada hormon namanya hormon estrogen. Hormon estrogen ini mempunyai sintetik namanya diethylstilbestrol. Nah BPA mirip dengan sintetik dari hormon estrogen tersebut,” ujar Prof Beri.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa BPA dapat mengaktivasi reseptor estrogen alfa dan beta. Sekarang ini ada beberapa bukti menunjukkan bahwa BPA mempunyai aktivitas yang menyerupai estrogen dan menunjukkan toksisitas di dalam organ reproduksi, yakni mempunyai efek hambatan yaitu menghambat inhibitory effect pada pembentukan testosteron.

Beberapa penelitian memang menunjukkan mungkin sekali ada hubungan antara BPA, paparan BPA, dan terbentuknya kanker-kanker terkait dengan hormon. Seperti kanker payudara, kanker prostat, kanker ovarium, dan kanker endometrium.

Tinggalkan komentar