Pada Akhir Perdagangan Tahun 2022 Harga Emas Sedikit Menguat Sebesar Rp6.000

JAKARTA, CIN – Harga emas sedikit menguat pada akhir perdagangan tahun 2022 ini, Sabtu (31/12/2022), memperpanjang keuntungan untuk hari kedua berturut-turut didorong oleh dolar AS yang lebih lemah menyusul ekspektasi bahwa bank sentral mungkin tidak perlu menaikkan suku bunga setinggi yang dikhawatirkan sebelumnya.

Harga emas divisi Comex New York Exchange, terdongkrak US$0,20 atau 0,01 persen menjadi ditutup pada US$1.826,20 per ons, setelah menyentuh rentang tertinggi pada US$1.832,40 dan terendah di US$1.819.80.

Sementara itu, harga Emas Antam (ANTM) turut mengekor dengan penguatan sebesar Rp6.000 menjadi Rp1.026.000 per gram, setelah naik Rp8.000 pada hari sebelumnya.

Harga emas mengakhiri tahun 2022 mendekati level tertinggi enam bulan, namun masih mencatatkan penurunan untuk tahun kedua berturut-turut diakibatkan oleh kenaikan suku bunga yang agresif dari Federal Reserve yang memicu reli dolar dan menekan harga emas.

Dolar AS melemah pada perdagangan Sabtu 31 Desember dengan indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, merosot 0,32 persen menjadi 103,5250 pada pukul 03.00 WIB.

Saat ini, emas menjadi tempat berlindung menjelang rilis risalah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu minggu depan 4 Januari 2023, dilanjutkan laporan pekerjaan besar AS, yang akan dirilis pada Jumat minggu depan 6 Januari 2023.

Pertarungan The Fed melawan inflasi diperkirakan akan menguasai sentimen di pasar logam mulia tahun depan. Invasi Rusia ke Ukraina, inflasi yang melonjak, pembatasan COVID-19, dan pertumbuhan yang melambat membuat logam mulia akan mengalami pergerakan beragam di tahun 2022.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret tergelincir 21 sen atau 0,87 persen, menjadi ditutup pada US$24,04 per ons. Platinum untuk US$17,9 atau 1,68 persen, menjadi menetap pada US$1.082,90 per ons.

Tinggalkan komentar