JAKARTA – Perusahaan energi terbesar di Inggris, BP Plc (NYSE: BP), telah memenangkan kontrak untuk memasarkan bagian minyak mentah Guyana yang diproduksi pada tahun 2023 dari dua anjungan produksi lepas pantai.
Ladang minyak Guyana di Amerika Selatan merupakan salah satu area minyak terbesar sepanjang dekade dengan ditemukannya cadangan minyak mencapai 11 miliar barel.
Kekayaan minyak Guyana bahkan telah membuat raksasa migas AS Exxon Mobil (NYSE: XOM) juga tergiur dan mengembangkan produksi di lepas pantai Guyana sehingga menjadikan Exxon menjadi pemain terbesar di sana.
BP telah setuju untuk memasarkan minyak yang diproduksi dari platform Liza Destiny dan Liza Unity tanpa biaya per barel, persetujuan tersebut sekaligus menggantikan unit perdagangan Saudi Aramco.
Sebagai tambahan informasi Liza Phase 1 dan Liza Phase 2 adalah dua proyek lepas pantai milik Exxon di Guyana, yang kini menghasilkan minyak rata-rata 360 ribu barel per hari. Bahkan, Exxon menargetkan total produksi dari Guyana mencapai 800.000 barel per hari pada tahun 2025 dan melampaui satu juta barel per hari pada akhir dekade ini.
Tidak hanya itu, satu bulan yang lalu, Exxon mengumumkan dua penemuan lagi di sumur Sailfin-1 dan Yarrow-1 di blok Stabroek lepas pantai Guyana.
Exxon adalah operator blok Stabroek yang memegang 45% saham, sementara mitra Hess Corp. (NYSE: HES) dan Cnooc (OTCPK: CEOHF) masing-masing memiliki 30% dan 25% saham. Sepanjang pertengahan tahun, konsorsium memproduksi minyak mentah senilai US$307 juta di Guyana.
Saat ini, per Juni 2022 total produksi minyak dan gas Exxon masih jauh di bawah rekor rata-rata yakni 3,7 juta barel per hari dan hampir 9% di bawah 4,1 juta barel per hari yang ditetapkan pada 2016.

