JAKARTA – Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (Dewas KPK) tidak mempermasalahkan Ketua KPK, Firli Bahuri menemui Gubernur Papua Lukas Enembe di kediamannya di Papua pada Kamis (3/10).
“Tidak. Sepanjang dilakukan dalam rangka pelaksanaan tugas,” kata Anggota Dewas KPK Syamsuddin Haris saat dikonfirmasi wartawan, Senin (7/11).
Firli datang ke Papua untuk mendampingi tim penyidik KPK dan tim dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Di mana, tim penyidik memeriksa Lukas sebagai tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi.
Sementara tim dokter IDI memeriksa kondisi kesehatan dari politikus partai Demokrat tersebut.
Haris menilai seluruh insan KPK termasuk Firli Bahuri dapat menemui pihak berperkara, selagi itu dalam rangka melaksanakan tugas.
“Tidak ada masalah jika insan KPK, termasuk Pimpinan KPK, berhubungan dengan tersangka, terdakwa, terpidana, atau pihak lain yang ada hubungan dengan perkara tipikor yang sedang ditangani oleh KPK,” tegas Haris.
Sebelumnya, Ketua IM57+ Institute, Praswad Nugraha mengkritik langkah Firli Bahuri yang menemui Lukas Enembe. Dia menilai, hal itu menjadi preseden buruk bagi penanganan kasus korupsi ke depan.
“Perlakuan ini menjadi preseden buruk bagi penanganan kasus ke depan karena tersangka akan berupaya menggunakan pendekatan yang sama sehingga dapat menjadi bargain dengan pimpinan KPK,” kata Praswad dalam keterangannya, Jumat (4/10).
Mantan Kadiv Advokasi Wadah Pegawai KPK itu mengatakan, kunjungan Firli ke rumah Lukas Enembe mencerminkan perlakuan khusus pejabat negara terhadap tersangka korupsi.
“Keadilan di tengah masyarakat akan terciderai,” imbuhnya.
“Mengapa bisa calon tersangka diperlakukan seistimewa itu oleh KPK? Karena tidak semua rakyat bisa merasakan kehangatan sikap Firli yang sepertinya malah ditujukan untuk tersangka korupsi,” sambung Praswad.
Sementarabitu, Firli Bahuri menegaskan jika proses penegakan hukum terhadap Lukas Enembe menjadi prioritas. Hal itu dipastikan tetap berjalan dengan memperhatikan kondisi kesehatan Lukas
“Kita akan melihat kembali hasil pemeriksaan kita, baik itu daru tim penyidik termasuk dari tim kedokteran yang kita bawa tadi. Tapi yang paling penting, kita prioritaskan penegakan hukum berjalan dengan memperhatikan juga kondisi kesehatan,” kata Firli dalam konferensi pers di Papua, Kamis, (3/11).
Firli memastikan tak ada agenda lain terkait keikutsertaannya dalam pemeriksaan tersebut. Dia menyebut kedatangannya ke Papua sebagai bagian dari proses penegakan hukum.
“Kita ingin sampaikan ini adalah proses hukum. Satu hal yang perlu kita ingat, tidak ada proses lain kecuali proses hukum yang ada di KPK. Tidak ada politisasi, tidak ada opini dan juga tidak ada kriminalisasi,” tegas Firli.

