JAKARTA – Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan pada Rabu malam bahwa persediaan minyak mentah komersial negara itu turun 1,7 juta barel pada pekan yang berakhir 14 Oktober.
Data tersebut melebihi survei analis S&P Global Commodity Insights yang memperkirakan penurunan 1,2 juta barel dalam pasokan minyak mentah AS.
Menurut EIA, total persediaan bensin motor turun 0,1 juta barel pekan lalu, sementara persediaan bahan bakar sulingan naik 0,1 juta barel.
Laporan tersebut otomatis mendongkrak harga minyak pada akhir perdagangan pagi hari ini Kamis 20 Oktober 2022, penguatan tersebut menghentikan penurunan selama tiga hari beruntun.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) terpantau menguat US$2,73 atau 3,3 persen dan ditutup pada US$85,55 per barel. Dilanjutkan, minyak mentah berjangka jenis Brent yang turut mengalami kenaikan sebesar US$2,38 atau 2,6 persen dan ditutup pada US$92,41 per barel.
Penurunan dalam stok minyak mentah AS disebabkan oleh aksi pemerintah AS yang melepaskan cadangan minyak mentahnya.
Amerika Serikat diberitakan akan melepaskan lebih banyak minyak mentah dari cadangannya. Pada sesi sebelumnya, harga acuan mencapai level terendah dalam dua minggu setelah Presiden AS Joe Biden mengatakan dia berencana untuk melepaskan 15 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis (SPR).
Sejatinya, dampak dari rilis data SPR adalah sentimen yang bersifat sementara, namun, ketidak pastian arah pergerakan harga minyak-lah yang meningkatkan volatilitas pada harga minyak.
Biden, dalam sambutan pidatonya pada Rabu kemarin, mengungkapkan rencana AS untuk membeli kembali minyak untuk cadangan jika harga minyak turun ke harga di anggap normal. Pelepasan cadangan tersebut akan menjadi penjualan terakhir dari rencana penjualan 180 juta barel minyak yang diumumkan tak lama setelah Rusia menginvasi Ukraina pada Februari.

