JAKARTA – Kementerian ESDM bekerja sama dengan International Energy Agency (IEA) meluncurkan Roadmap Net Zero Emission (NZE), khusus untuk sektor energi pada perhelatan Energy Transition Ministerial Meeting (ETMM).
Kerja sama tersebut merupakan wujud komitmen Indonesia sebagai bagian dari komunitas global dalam aksi mitigasi perubahan iklim.
“Apresiasi tinggi saya kepada IEA atas hasil kolaborasi dalam pembuatan trajectory aksi mitigasi yang tepat, tidak hanya di sektor listrik, tetapi juga di sektor permintaan,” kata Menteri ESDM, Arifin Tasrif, saat peluncuran Road Map NZE 2060 di hadapan peserta sidang Energy Transitions Ministerial Meeting (ETMM) di Nusa Dua, Bali.
Menurut Menteri Arifin, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, kedua belah pihak akan berfokus pada pengembangan energi terbarukan secara masif dengan fokus pada tenaga surya, hidro dan panas bumi.
Pemerintah menegaskan bahwa tambahan pembangkit listrik setelah 2030 hanya berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT).
“Mulai 2035 akan didominasi oleh variable renewable energy (VRE), sedangkan pembangkit listrik tenaga nuklir akan masuk sistem pada 2049,” jelasnya.
Menurut Arifin, teknologi dan inovasi adalah tantangan bersama dalam mewujudkan energi bersih yang lebih mudah diakses dan terjangkau.
Kerja sama dan solusi teknologi sangat penting untuk mendekarbonisasi sektor dan industri listrik. Kita perlu memprioritaskan penelitian, pengembangan, dan penerapan untuk teknologi generasi berikutnya,” tegasnya.
Menteri Arifin pun mengakui dukungan dan kerja sama dunia internasional sangat dibutuhkan.
“Setiap orang memiliki akses untuk berpartisipasi dalam pengembangan energi hijau. Untuk itu, ketersediaan dan akses teknologi dan pembiayaan harus terbuka lebar bagi semua negara,” ungkapnya.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, mengungkapkan Indonesia perlu memastikan reformasi kebijakan untuk membuka jalan bagi transisi energi ke energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada batu bara.
“Indonesia memiliki kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa untuk negara yang sangat bergantung pada ekspor bahan bakar fosil, jalan menuju emisi nol bersih tidak hanya feasible, tetapi juga memberikan manfaat,” jelas Fatih pada kesempatan sama.
Berdasarkan kajian IEA, ungkapnya, Indonesia membutuhkan hampir tiga kali lipat investasi energi di 2030 dari tingkat saat ini.
Dalam laporan terbaru IEA, The IEA’s Energy Sector Roadmap to Net Zero Emissions in Indonesia menyebutkan ada tambahan investasi sebesar delapan miliar dolar AS per tahun.
Sementara itu, Direktur Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menekankan keberadaan peta jalan NZE hasil kolaborasi Indonesia-IEA akan digunakan sebagai bahan masukan untuk menyempurnakan peta jalan NZE Indonesia pada COP26 di Glasgow.
“Kita ingin memastikan bahwa roadmap kita ini bisa berjalan dengan baik, bisa dilaksanakan dari prinsip daya saing. Kami proses transisi ini tidak menurunkan daya saing Indonesia,” ujarnya.

