Pengamat Nilai Keputusan Pemerintah Tidak Menaikkan Harga BBM Pertamax Menguntungkan Pertamina

JAKARTA – Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menilai keputusan Shell kembali menaikkan harga BBM RON 92 akan membuat beberapa konsumennya beralih ke perusahaan pelat merah. Sebab mulai 1 Juni 2022, PT Pertamina jual murah bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax Rp 12.500 per liter, dibanding Shell Super yang juga setara research octane number (RON) 92 dengan harga Rp 17.500.

“Dalam konteks persaingan, harga BBM Shell ditentukan harga pasar yakni Rp 17.500 untuk RON 92. Adanya disparitas harga BBM Shell dan Pertamina, bikin konsumen akan pindah ke Pertamina, kan mereka rasional,” kata Fahmy dalam dalam keterangannya pada, Senin (6/6/2022).

Karena itu, menurutnya keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM Pertamax menguntungkan Pertamina dari sisi tersebut.

“Dalam konteks persaingan harga, saya kira Pertamina diuntungkan. Shell akan kehilangan sebagian konsumen, kecuali yang loyal karena lebih banyak konsumen rasional,” kata Fahmy.

Selain itu, belum naiknya harga Pertamax dinilainya tidak merugikan Pertamina sama sekali karena mendapatkan kompensasi dari pemerintah.

Namun, masalahnya adalah jika pemerintah terlambat membayar kompensasi itu, maka akan membuat keuangan Pertamina terganggu.

Pertamina tidak rugi sama sekali, dapat kompensasi dari pemerintah, sesungguhnya tidak masalah. Masalahnya, kompensasi tadi tidak segera dibayar, ada sekira Rp 1 trilium belum dibayar, dan kalau tidak segera dibayar membuat keuangan Pertamina berdarah-darah bahkan bangkrut,” pungkasnya.

Tinggalkan komentar