Popularitas Capres Tidak Berdasarkan Kinerja Fenomenal Melainkan Hubungan Emosional Dengan Publik

JAKARTA — Ketua perkumpulan Tim Relawan Aspirasi Rakyat Indonesia (PTRARI) Prof Sumunar mengatakan, Golkar, PPP dan PAN sudah sepakat akan menjalin koalisi dalam pemilu 2024. Itu artinya mereka sudah melebihi dari ketentuan Presidential Threshold untuk mengusung Capres 2024. Namun siapa calonnya belum di ketahui, kemungkinan Airlangga.

Sementara PDIP menurutnya, jelas tidak perlu koalisi untuk mengusung Capres.

“Gerindra, keliatannya sangat berharap dapat koalisi dengan PDIP. Tapi sampai sekarang belum jelas statusnya. Masih disuruh onani aja. Koalisi dengan Nasdem, tidak mungkin. Koalisi dengan PKS sudah patah arang. Dengan PKB, juga tidak mungkin. Dengan Demokrat, nggak mungkin Jenderal gabung dengan Mayor. Jadi kalau PDIP ogah gandeng Gerindra koalisi ya nasip Prabowo hanya sebatas perjuangan tanpa akhir sukses,” katanya dalam keterangan tertulis yang di terima CIN pada, Jumat (15/5/2022).

Menurut pendiri Partai Gerakan Pemberantasan Korupsi (PGPK) 2002 ini, Kalau Airlangga dipastikan maju capres, sekarang capres unggulan tersisa hanya dua yaitu Ganjar dan Anies, Sedangkan nasip Ganjar sampai sekarang belum juga dapat angin dari PDIP. Malah yang terjadi ada upaya internal PDIP mengesampingkan Ganjar, Sementara Anies, pengaruh JK sudah melemah.

“Sepertinya terjadi pecah kongsi antar ormas islam yang tadinya mendukung dia. Kalau tadinya ada beberapa partai semangat dukung Anies, kini sudah ogah,” ucapnya.

“Jadi apa yang sementara dapat kita cermati dari dinamika politik di Indonesia ? Sepertinya partai tidak terpengaruh dengan hasil Survey. Ada upaya mereka berusaha membakar elektabilitas personal calon yang sudah terbentuk berkat media massa,”ia menambahkan.

Targetnya adalah melahirkan capres dari olahan partai sendiri, bukan atas dasar popularitas dan elektabilitas, Itu sangat mungkin terjadi.

Karena menurutnya, popularitas calon itu tidak didasarkan pada agenda yang mereka punya dan terbukti capable lewat kinerja fenomenal. Tetapi atas dasar hubungan emosional dengan publik. Partai sangat paham bagaimana mengeliminate mereka sebelum jadi melekat dihati rakyat. Elite partai punya banyak cara, bila perlu lewat kasus.

“Waktu masih tersisa 2 tahun. Seharusnya capres andalan publik, focus mengusung agenda dan kemudian dia perjuangkan satu kinerja sebagai pilot proyek yang fenomenal. Soal agenda itu didukung atau tidak oleh pemerintah, gerakan saja. Toh rakyat bisa menilai. Kalau enggak, antar capres andalan itu bisa saja terprovokasi bergabung. Misal Anies gabung dengan Ganjar yang gagal dicalonkan PDIP. Ini sama saja maju untuk kalah. Kalah dibantai oleh pemilih keduanya. Yang menang yang diusung partai besar juga,” pungkasnya. ©

Tinggalkan komentar