China dan Australia Saling Tuding Pembelian Rafale Digunakan Untuk Melawan Mereka

JAKARTA — Rafale menjadi sumbu tersendiri bagi Indonesia dengan memantik perhatian China dan Australia.

Walau kontrak Rafale Indonesia ditandatangani pada 10 Februari 2022 lalu, media internasional seperti dari China, Australia dan Eropa masih membahas hal ini.

China dan Australia saling tuding bila pembelian Rafale digunakan Indonesia untuk melawan mereka. China menuding jet tempur itu digunakan untuk melawan Australia. Sedangkan Australia gantian menuding Rafale digunakan Indonesia untuk melawan China.

“Beberapa analis percaya bahwa begitu Indonesia dan Australia terjebak dalam perlombaan senjata, kemungkinan besar Indonesia akan terus memasok senjata dari Prancis, dan (kemungkinan) China, sebagai mitra sahabat dan negara tetangga, adalah pilihan pertama Indonesia untuk pembelian senjata,” dilansir media China 163.com pada, Kamis (17/2/2022).

“Banyak pengamat menilai pembelian jet tempur Prancis yang agresif kali ini mungkin ditujukan ke Australia. Apa hubungannya Indonesia dengan Australia saat membeli persenjataan Prancis? Faktanya, alasannya sangat sederhana, mungkin terkait dengan insiden batalnya kapal selam Paris dibeli Canberra,” tambahnya.

China berprasangka jika pembelian Rafale untuk menangkal agresivitas koalisi AUKUS.

“Dari hal-hal tersebut di atas, tidak sulit untuk melihat bahwa pembelian pesawat tempur Rafale Prancis oleh Indonesia kemungkinan besar merupakan tanggapan atas bergabungnya Australia dengan kelompok Anglo-Amerika, karena Indonesia secara pribadi telah merasakan potensi ancaman pembangunan kapal selam nukli atas dasar menjaga persahabatan relatif dengan China,” jelasnya.

Sedangkan Australia melalui Lowy Institute menuding balik bahwa Rafale digunakan untuk melawan gangguan keamanan di Natuna Utara yang disebabkan oleh China.

“Tapi penjelasan yang lebih lugas adalah bahwa Indonesia membeli pesawat tempur senilai US$22 miliar karena bisa. Negara-negara Asia Tenggara telah memodernisasi kekuatan militer mereka jauh sebelum Cina meningkatkan kekuatan militernya, terutama karena seiring dengan pertumbuhan ekonomi mereka, kekayaan pemerintah juga meningkat. Mereka tiba-tiba mampu membeli peralatan militer yang telah lama mereka cari,” papar lowyinstitue.org, 15 Februari 2022.

“Australia harus memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya bagi militer Indonesia.

Pekan lalu, Indonesia membuat pernyataan niat besar tentang keamanannya. Berita bahwa Jakarta akan membeli 42 jet tempur Rafale Prancis dan bahwa AS telah menyetujui penjualan 36 pesawat tempur F-15 Advanced Eagle Amerika merupakan investasi kekuatan udara yang serius.

Bahkan, jika pesanan disampaikan secara penuh (dan tidak ada yang bisa memastikan tentang pengadaan militer Indonesia), itu adalah langkah perubahan,” jelas Lowy Institute menambahkan.

Tinggalkan komentar