Catat !!! Berikut Ini Ciri-ciri Minyak Goreng Oplos Oli Bekas

Penulis : Ibnu Ferry.

JAKARTA — Ketersediaan minyak goreng murah di berbagai daerah semakin langka. Tak sedikit masyarakat yang mengeluhkan kelangkaan minyak goreng yang terjadi di Indonesia sejak awal tahun 2022. Ditengah kelangkaan minyak sayur di tanah air ada baiknya kita mewaspadai dan berhati-hati dalam membeli minyak goreng.

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara pemalsu terbesar. Mulai dari avtur palsu (dicampur air), baso palsu (berformalin, berdaging tikus), beras palsu (pakai pemutih), daging ayam palsu (tiren), daging sapi palsu (glonggongan, direndam darah, berformalin, dioplos dengan daging celeng), gorengan crispy palsu (sedotan, kemasan plastik ikut dilelehkan dalam minyak goreng panas), semangka manis palsu (disuntik pemanis buatan), susu murni palsu (dioplos santan dan air kaporit), telur asin palsu (dicat dan disuntik air garam), terasi palsu (campur nasi aking atau dedak), ikan palsu (berformalin) , jamu tradisional palsu (campur obat keras jenis G penyebab gagal jantung/ginjal/ hati), permen coklat palsu (diisi narkoba), susu Formula ‘palsu’ (mengandung bakteri enterobacteri sakazaki). Dan, masih banyak palsu-palsu yang lain yang sangat mendukung predikat tidak terpuji.

Bahkan berita terbaru, Polda Jawa Tengah (Jateng) menangkap dua orang  dalam penyelidikan kasus dugaan peredaran minyak goreng palsu di Kudus.

Minyak goreng palsu yang sempat beredar di masyarakat dan merugikan sejumlah konsumen tersebut dibuat dari bahan air dengan pewarna kuning sebagai campuran. Salah satu korban yang yang mengalami kerugian yakni pengusaha kerupuk di Kecamatan Dawe, Kudus. Korban tersadar saat ia menggoreng kerupuk.

Kita akan membahas tentang pemberitaan yang pernah ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta tentang praktek kecurangan terhadap minyak goreng yang dioplos dengan oli bekas kendaraan bermotor. Padahal peristiwa yang sama sempat marak beberapa tahun lalu.

Padahal minyak goreng itu selain dikonsumsi sendiri juga digunakan sebagai modal usaha bagi pedagang makanan gorengan, warung-warung tepi jalan, dan penjual aneka penganan di pasar-pasar, stasiun kereta api, terminal bus, dan fasilitas umum yang lain.

Berikut ini informasi yang didapat langsung dari lapangan dan oknum pelaku kecurangan yang bisa kita simak sebagai pengetahuan agar kita lebih waspada dan tidak terjebak sebagai korban pemalsuan minyak goreng lagi.

Teknik Pengoplosan

Pelaku mengumpulkan minyak jelantah (minyak bekas menggoreng) dari para penjual makanan gorengan dengan harga Rp 1000 – 2000/kg. Oli bekas kendaraan bermotor didapat dari bengkel mobil dan sepeda motor secara gratis.

Jelantah dan oli bekas dipanaskan di tempat yang berbeda sampai terpisah antara endapan dan cairan beningnya kemudian masing-masing disaring. Minyak jelantah yang sudah terpisah disaring dan kemudian ditambahkan tepung terigu dan mentega dengan takaran suka-suka dan dimaksudkan supaya warna dan tampilannya mendekati minyak goreng murni.

Terakhir oli bekas yang juga sudah disaring ditambahkan ke dalam minyak goreng tadi dengan maksud menambah jumlah volume sehingga semakin banyak hasil yang diperoleh. Bahkan, tidak tanggung-tanggung pelaku juga menambahkan zat kimia semacam Hidrogen beroksida. Dan, semua itu membutuhkan modal hanya Rp 6000/liternya dan mereka menjual kembali kepada penjual di pasar mendekati harga normalnya Rp 12.000/liter sampai dengan 23.000/liter. Dan dijual dalam kemasan palsu yang sangat mudah di dapatkan di online.

Hasil Penelitian Associate Laboratories menyatakan bahwa hasil uji lab terhadap minyak goreng oplosan mengandung senyawa berbahaya (baca: racun) lebih tinggi dibanding minyak jelantah biasa. Kadar Senyawa itu memicu sel kanker menjadi ganas.

Cara Mengenali

Mengenali minyak goreng oplosan di pasaran memang tidaklah mudah. Tapi, tetap kita bisa membedakannya apabila kita mau jeli. Berikut ini tips mudah untuk mengenalinya:

– Berbau tengik (minyak goreng berbau khas tidak tengik).

– Berwarna lebih suram dari minyak goreng asli, meskipun jernih namun tetap terlihat tidak bersinar.

– Terdapat endapan didasar minyak (berasal dari tepung terigu).

– Timbul banyak buih dan berasap saat dipanaskan.

Keanehan di atas tidak ditemukan pada minyak goreng asli yang sehat.

Berbekal pengetahuan di atas semoga konsumen bisa lebih jeli terhadap produk-produk palsu yang merugikan dan membahayakan kesehatan keluarga dan saudara-saudara kita.

Dari berbagai sumber.

Tinggalkan komentar