BENI — Bom bunuh diri terjadi di sebuah restoran dan bar di kota Beni, Kongo timur pada Hari Natal. Karena serangan ini, setidaknya enam orang dikonfirmasi tewas, termasuk anak-anak dan pengebom itu sendiri.
Dilaporkan tembakan keras terdengar tak lama setelah bom meledak, dengan kerumunan yang panik melarikan diri dari pusat kota.
Jenderal Sylvain Ekenge, juru bicara gubernur Kivu Utara, mengungkap bahwa pada saat insiden terjadi, para penjaga keamanan sempat memblokir pelaku untuk memasuki bar yang ramai. Namun, pelaku langsung meledakkan bahan peledak di pintu masuk.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menghindari keramaian selama musim liburan. Saat ini sangat sulit mengetahui orang mana yang mencurigakan dan yang tidak di kota dan wilayah Beni,” kata Ekenge dikutip dari The Guardian.
Salah satu saksi bernama Rachel Magali mengaku berada di dalam bar-restoran saat penyerangan terjadi. Ia mengatakan bahwa ia sempat mendengar suara keras dari luar ketika sedang menunggu tiga jam bersama dengan saudara ipar dan beberapa orang lainnya. Kemudian yang terjadi, menurut Magali, adalah tubuh yang berceceran di luar lokasi ledakan.
“Tiba-tiba kami melihat asap hitam mengelilingi bar dan orang-orang mulai menangis. Kami bergegas ke pintu keluar di mana saya melihat orang-orang tergeletak. Ada kursi plastik hijau berserakan di mana-mana dan saya juga melihat kepala dan lengan yang lepas dari tubuh. Itu benar-benar mengerikan” ungkap Magali kepada Associated Press.
Sementara itu, dua saksi mata lainnya menambahkan keterangan bahwa ada lebih dari 30 orang sedang merayakan Natal saat bom itu meledak.
Wali Kota Bani, Narcisse Muteba mengonfirmasi bahwa di antara yang tewas ada dua anak. Lalu, yang terluka dilaporkan mencapai sedikitnya 14 orang, dengan para korban telah dibawa ke rumah sakit setempat.
“Penyelidikan sedang dilakukan untuk menemukan pelaku serangan teroris ini,” kata Muteba, yang juga seorang kolonel polisi kepada AP.

