JAKARTA – Pemerintah telah menetapkan paten obat Favipiravir sebagai obat Covid-19 selama tiga tahun ke depan. Hal ini tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 101 Tahun 2021 tentang pelaksanaan paten oleh Pemerintah terhadap obat Favipiravir.
Dalam Perpres tersebut disahkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 10 November 2021.
“Pemerintah melaksanakan paten terhadap obat Favipiravir,” tulis Perpres pasal 1 ayat 1 yang dikutip C.I.News pada, Sabtu (27/11/2021).
Sementara itu, dijelaskan juga bahwa pelaksanaan paten oleh Pemerintah terhadap obat Favipiravir dimaksudkan untuk memenuhi ketersediaan dan kebutuhan yang sangat mendesak untuk pengobatan penyakit Corona Virus Disease 2019 (Covid- 19).
“Pelaksanaan paten oleh Pemerintah terhadap obat Favipiravir dilaksanakan untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak Peraturan Presiden ini mulai berlaku,” pada pasal 1 ayat 3.
Sementara itu, apabila setelah jangka waktu 3 (tiga) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (3) pandemi belum berakhir, pelaksanaan paten oleh Pemerintah diperpanjang sampai dengan pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-l9) ditetapkan berakhir oleh Pemerintah.
Favipiravir merupakan obat antivirus analog pyrazine, penggunaannya pertama kali disetujui untuk terapi influenza yang resisten. Saat ini favipiravir sedang diteliti untuk terapi corona virus disease 2019 (COVID-19).
Target dari antivirus ini adalah enzim RNA-dependent RNA polimerase (RdRp) yang penting untuk transkripsi dan replikasi genom virus. Favipiravir tidak hanya menghambat replikasi virus influenza A dan B, tapi juga dianggap berpotensi untuk terapi avian flu dan virus Ebola.
Favipiravir Nama kimia: 6-fluoro-3-hydroxypyrazine-2carboxamide.
Favipiravir adalah obat antivirus yang ditemukan oleh Toyama Chemical Co.,Ltd. Obat ini sudah disetujui penggunaannya di Jepang pada tahun 2014 untuk terapi penyakit yang disebabkan oleh virus influenza baru (novel or re-emerging influenza viruses), tapi belum disetujui penggunaannya oleh US Food and Drug Administration (FDA) dan Therapeutic Good Administration (TGA). Di Jepang, persetujuan penggunaan obat ini disertai dengan aturan yang ketat karena data efektivitas obat ini pada manusia masih terbatas pada infeksi influenza, dan terdapat efek samping teratogenesis dan embriotoksisitas.
Pemakaian favipiravir hanya dilakukan saat Kementrian Kesehatan Pemerintah Jepang sudah membuat keputusan untuk menggunakan obat ini selama terjadinya outbreak. Tanpa izin dari pemerintah Jepang, favipiravir tidak dapat diproduksi dan di stok di Jepang.
Favipiravir digunakan sebagai terapi Ebola pada saat terjadi epidemi di Afrika barat pada tahun 2014, saat itu belum ada terapi standar untuk infeksi virus Ebola. Favipiravir dilaporkan cukup efektif sebagai profilaksis pasca pajanan, dan terapi infeksi virus Ebola. Dari penelitian in vitro dan penelitian pada model hewan, favipiravir juga menunjukkan potensi sebagai terapi untuk avian influenza atau flu burung. Di Indonesia, saat ini favipiravir sudah disetujui oleh BPOM untuk penggunaan darurat COVID-19.
Efek samping favipiravir diantaranya berupa efek samping hepatik dengan peningkatan enzim, gastrointestinal seperti diare, mual, muntah, dan nyeri abdomen, gangguan hematologi, respiratorik, metabolik, hipersensitivitas, serta efek samping lain seperti vertigo, ekimosis, pandangan kabur, dan polip tonsil.
Terdapat beberapa potensi interaksi antara favipiravir dengan obat atau zat lain, di antaranya dengan paracetamol, pirazinamid, repaglinid, dan famsiklovir.
Efek Samping
Efek yang tidak diinginkan dari penggunaan favipiravir bisa terjadi pada berbagai organ, yaitu:
- Hepatik: peningkatan SGOT, SGPT, dan γ-GTP (≥1%), peningkatan bilirubin (<0,5%)
- Gastrointestinal: diare (4,79%), mual, muntah, nyeri abdomen (0,5-<1%), dispepsia, ulkus duodenum, hematochezia, gastritis (<0,5%)
- Hematologi: penurunan hitung neutrofil, leukopenia (≥1%), penurunan hitung retikulosit, peningkatan monosit (<0,5%)
- Respiratori: asma, nyeri orofaringeal, rinitis, nasofaringitis (<0,5%)
- Gangguan metabolik: hiperuricemia (4,79%), peningkatan trigliserida (≥1%), glukosuria (0,5-<1%), hipokalemia (<0,5%)
- Hipersensitivitas: rash (0,5-<1%), eksim, pruritus (<0,5%)
- Efek samping lain: vertigo, ekimosis, pandangan kabur, polip tonsil (<0,5%)
Suatu uji klinik fase II (NCT01068912) mendapatkan bahwa pada pemberian favipiravir dengan loading dose 2000 mg/hari yang diikuti dosis harian sebesar 800 mg/hari, setelah dilakukan follow up selama 5 hari didapatkan efek samping serius pada 1,5% pasien, dibandingkan 0,5% pada plasebo. Efek samping yang terjadi adalah:
- Gangguan gastrointestinal terjadi pada 10,6% pasien, dibandingkan 17,3% pada plasebo
- Peningkatan asam urat terjadi pada 2,3% pasien, dibandingkan 2,5% pada plasebo
Sementara itu, pada pemberian dengan loading dose 2400 mg/hari yang dilanjutkan dengan dosis harian 1600 mg/hari, efek samping yang didapatkan adalah:
- Gangguan gastrointestinal terjadi pada 13,2% pasien, dibandingkan 17,3% pada plasebo
- Peningkatan hasil tes fungsi hati terjadi pada 1,6% pasien, dibandingkan 3,0% pada plasebo
- Peningkatan asam urat terjadi pada 3,7% pasien, dibandingkan 2,5% pada plasebo Suatu review dari 29 studi mengenai favipiravir, dengan total sampel sebesar 4299 pasien, mendapatkan bahwa efek samping peningkatan asam urat terjadi pada 5,8% pasien dibandingkan 1,3% pada kelompok kontrol.
Interaksi Obat
Terdapat beberapa potensi interaksi antara favipiravir dengan obat atau zat lain, di antaranya:
- Favipiravir tidak menghambat metabolisme paracetamol pada proses konjugasi glukuronida, tapi menghambat konjugasi sulfat. Penggunaan bersamaan antara favipiravir dan paracetamol dapat meningkatkan area under the curve (AUC) paracetamol sebesar 20% tapi tidak mempengaruhi maximum concentration (Cmax). Interaksi ini tidak terlalu bermakna secara klinis.
- Penggunaan secara bersamaan antara favipiravir dan pirazinamid dapat menyebabkan hiperurisemia. Terjadi peningkatan kadar asam urat darah sebesar 2,3 mg/dl pada pemberian pirazinamid 1500 mg sekali sehari dan favipiravir 1200 mg 2 kali sehari. Hal ini disebabkan karena terjadinya peningkatan reabsorbsi asam urat dalam tubulus ginjal
- Penggunaan favipiravir dan repaglinide secara bersamaan dapat menyebabkan peningkatan kadar repaglinide di dalam darah sehingga berpotensi meningkatkan risiko adverse effect repaglinide. Hal ini disebabkan karena penghambatan enzim CYP2C8 yang menyebabkan penghambatan metabolisme repaglinide
- Penggunaan bersamaan dengan teofilin dapat meningkatkan kadar favipiravir dalam darah, sehingga berpotensi terjadinya efek samping favipiravir
- Penggunaan bersamaan dengan famsiklovir dapat menurunkan kadar famsiklovir. Hal ini disebabkan karena penghambatan aldehid oksidase oleh favipiravir dapat menurunkan bentuk aktif famsiklovir dalam darah
- Favipiravir dapat menghambat deesterifikasi oseltamivir apabila diberikan pada konsentrasi yang cukup tinggi (IC50 ≥3000 µmol/L.
Referensi
- Nagata T, Lefor A, Hasegawa M, Ishii M. Favipiravir: A New Medication for the Ebola Virus Disease Pandemic. Disaster Med Public Health Preparedness. 2015;9:79-81.
- Lumby CK, Zhao L, Oporto M, Best T, Tutill H, Shah D, Veys P, et al. Favipiravir and Zanamivir Cleared Infection with Influenza B in A Severely Immunocompromised Child. Clinical Infectious Disease.2020;3:1-4. DOI: 10.1093/cid/ciaa023
- Potential Medicines to Treat COVID-19. Australian Commision on Safety and Quality in Health Care. April 2020. Diakses dari: https://www.safetyandquality.gov.au/publications-and-resources/resource-library/potential-medicines-treat-covid-19
- Du YX, Chen XP. Favipiravir: Pharmacokinetics and Concerns About Clinical Trials for 2019-nCoV Infection. Clinical Pharmacology and Therapeutic. 2020. DOI:10.1002/cpt.1844
- Kajian Farmakoterapi Pengobatan COVID-19. Perhimpunan Dokter Spesialis Farmakologi Klinik Indonesia (PERDAFKI). Jakarta. April 2020
- Favipiravir. Drugbank. Diakses dari: https://www.drugbank.ca/drugs/DB12466
- Shiraki K, Daikoku T. Favipiravir, an anti-influenza drug against life-threatening RNA virus infections. Pharmacology & Therapeutics. 2020
- Sanders J, Monogue M, Jolwski T, Cutrell J. Pharmacologic Treatments for Coronavirus Disease 2019 (COVID-19): A Review. JAMA. doi:10.1001/jama.2020.6019
- Informatorium Obat COVID-19 di Indonesia. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Maret 2020. Hal.41-48
- Favipiravir Prescribing Information. Center of Disease Control and Prevention. Diakses dari: https://www.cdc.gov.tw/File/Get/ht8jUiB_MI-aKnlwstwzvw
- Furuta Y, Takahashi K, Maekawa M, Sangawa H, Uehara S, Kozaki K, Nomura N, Egawa H, Shiraki K. Mechanism of Action of T-705 against Influenza Virus. Antimicrobial Agents And Chemotherapy. 2015. doi:10.1128/AAC.49.3.981–986.2005
- Caroline A, Powell D, Bethel LM, Qury T, Reed D, Hartman A. Broad Spectrum Antiviral Activity of Favipiravir (T-705): Protection from Highly Lethal Inhalational Rift Valley Fever. PLOS Neglected Tropical Diseases.2014;8:4

