JAKARTA — Sebanyak 105 tokoh nasional yang terdiri dari budayawan, akademisi, aktivis HAM, hingga tokoh agama menyatakan dukungan kepada Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI). Mereka ingin BPOM bekerja secara profesional tanpa adanya tekanan politik.
Dukungan tersebut disampaikan dalam pernyataan sikap secara daring pada Sabtu (17/4). Beberapa tokoh penting yang turut menyatakan sikapnya antara lain mantan Wakil Presiden RI Boediono, mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif, Rais Syuriah PBNU Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, puteri mantan Presiden Abdurrahman Wahid: Anita Wahid, Sutradara Joko Anwar, akademisi Zainal Arifin Mochtar, hingga budayawan Goenawan Mohamad.
Dalam pernyataan sikap yang diterima redaksi C.I.News, para tokoh tersebut menyatakan:
Pernyataan Terbuka
“Tim BPOM, Majulah Terus!”
Setiap penelitian vaksin perlu diputuskan oleh lembaga yang memiliki otoritas. perlu diputuskan oleh lembaga negara yang memiliki otoritas.
Kita punya Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI). Kami, yang nama-namanya tercantum di bawah ini, bersikap berpegang pada pendirian BPOM yang merupakan badan resmi di Indonesia dan bekerja berdasarkan prosedur-prosedur, disiplin, dan integritas ilmiah.
Biarkan BPOM bekerja tenang bersama tim pakarnya. Kami percaya pada integritas keilmuan dan independensi mereka. Selama ini, BPOM telah mengabdi untuk menjaga kesehatan masyarakat di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Mereka yang bekerja di BPOM telah membuktikan diri sebagai patriot tanpa banyak retorika, teguh menghadapi tekanan dari mana saja.
Kami, warga Republik, berdiri bersama mereka.
Setiap penelitian dan pengembangan vaksin dan obat, kami hargai sebagai ikhtiar membuka kemungkinan baru melawan pandemi. Tentu dengan tetap mengindahkan asas-asas ilmiah.
Mari kita ingat bahwa hidup mati jutaan rakyat adalah taruhannya.
Jakarta, 17 April 2021
- A. Mustofa Bisri
- Abdillah Toha
- Ade Armando
- Adi R. Adiwoso
- Ahmad Syafi’i Maarif
- Ainun Najib
- Akmal Taher
- Alissa Wahid
- Anak Agung Gede Ariawan
- Ananda Sukarlan
- Andreas Harsono
- Andy Budiman
- Anita Wahid
- Anton Rahardjo
- Arief Anshory Yusuf
- Arief T. Surowidjojo
- Avianti Armand
- Azyumardi Azra
- Betti Alisjahbana
- Boediono
- Budi Haryanto
- Budiati Prasetiamartati
- Butet Kertaradjasa
- Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI)
- Christine Hakim
- Dicky Budiman
- Dicky Pelupessy
- Djoko Susilo
- Emil Salim
- Erry Riyana Hardjapamekas
- Goenawan Mohamad
- Halik Malik
- Harkristuti Harkrisnowo
- Henny Supolo Sitepu
- Herawati Supolo Sudoyo
- Herlambang P. Wiratraman
- Imam B. Prasodjo
- Indang Trihandini Harun
- Indrawati Hadi
- Ines Irene Atmosukarto
- Iqbal Elyazar
- Irma Hidayana
- Ismid Hadad
- Isnani Suryono Salim
- Jajang C. Noer
- Jatna Supriatna
- Jilal Mardhani
- Joko Anwar
- KawalCovid19.id
- Kemal Azis Stamboel
- Komaruddin Hidayat
- Kresna Astraatmadja
- Kuntoro Mangkusubroto
- Lelyana Santosa
- Lenny Ekawati
- Lies Marcoes
- Lukiarti Rukmini
- Lukman Hakim Saifuddin
- Manik Marganamahendra
- Manneke Budiman
- Mardiana Oemar
- Maria Hartiningsih
- Mayling Oey
- Metta Dharmasaputra
- Mochtar Pabottingi
- Multamia Lauder
- Nachrowi D. Nachrowi
- Natalia Soebagjo
- Nida P.H. Nasution
- Nina Mutmainah
- Nuning W. Wiradijaya
- Olga Lydia
- Omi K. Nurcholish Madjid
- Pandu Riono
- Pratiwi Sudarmono
- Purwantyastuti
- R. Hario Soeprobo
- R. Woodrow Matindas
- Rachmat Irwansjah
- Ratna Djuwita
- Ratna Sitompul
- Riris K. Toha Sarumpaet
- Rochmat Wahab
- Sandra Hamid
- Saparinah Sadli
- Sarwono Kusumaatmadja
- Shanti L. Poesposoetjipto
- Sidrotun Naim
- Sigit Pramono
- Siti Annisa Nuhonni
- Siti Masmuah
- Sjamsiah Achmad
- Suryono S.I. Santoso
- Susi Dwi Harijanti
- Suwarno Wisetrotomo
- Syakieb Sungkar
- Tini Hadad
- Tirta Mandira Hudi
- Tunggal Pawestri
- Ulil Abshar Abdalla
- Unggul Budi Husodo
- Usman Hamid
- Wien Kusharyanto
- Zainal Arifin Mochtar
- Zumrotin K. Susilo
Kami, warga Republik
Mari kita ingat bahwa hidup mati jutaan rakyat adalah taruhannya.
BPOM RI saat ini sedang jadi sorotan karena menolak penggunaan Vaksin Nusantara untuk menanggulangin pandemi COVID-19 karena dianggap tidak sesuai strandar tahapan pengembangan obat dan vaksin. Sikap BPOM tersebut mendapat perlawanan dari para politisi di DPR RI. Vaksin Nusantara sendiri pengembangannya dipimpin oleh mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dan diklaim sebagai hasil karya anak bangsa.(Red)

