Situasi Myanmar Kian Kacau, Sejumlah Warga Kabur Dari Negaranya

MIZORAM — Situasi pasca kudeta militer yang kian kacau telah membuat sejumlah warga Myanmar kabur dari negaranya. Otoritas India bahkan mengungkap jumlah warga yang melarikan diri ke perbatasan kini melambung hingga 85 orang. Di antara yang kabur itu termasuk 8 polisi yang telah memasuki negara bagian Mizoram di timur laut India pada minggu ini.

“Setidaknya 85 warga sipil dari Myanmar telah menunggu di perbatasan internasional untuk memasuki India,” ungkap seorang pejabat India yang berbicara tanpa menyebut nama.

Laporan kaburnya puluhan warga Myanmar ke perbatasan ini juga telah diungkap oleh media-media India. Dalam liputannya, mereka membeberkan bahwa warga yang melintasi perbatasan termasuk polisi hingga pejabat lokal yang menolak mengikuti perintah militer.

Sementara, kantor berita AFP menambahkan bahwa Myanmar telah mengirim surat yang isinya meminta otoritas Champhai Mizoram untuk mengembalikan 8 polisi yang kabur.

Champhai Mizoram adalah distrik yang kini dijadikan tempat berkumpul bagi sejumlah pengungsi Myanmar.

Untuk menjalin hubungan persahabatan antara kedua negara tetangga, Anda dengan hormat diminta untuk menahan 8 personel polisi Myanmar yang telah tiba di wilayah India dan diserahkan ke Myanmar,” bunyi surat yang dilihat oleh AFP.

Pemerintah India mengatakan surat itu sedang dipelajari bersama dengan kasus para pengungsi Myanmar yang telah melintasi perbatasan.

India memang tengah berusaha membangun hubungan lebih dekat dengan Myanmar untuk melawan pengaruh China. Dalam sikapnya terhadap situasi Myanmar, India juga diketahui tidak mengutuk kudeta yang dilakukan militer.

Meski begitu, duta besar PBB India, TS Tirumurti pada pekan ini telah menekankan pentingnya demokrasi di Myanmar. Ia juga menegaskan bahwa pencapaian demokrasi Myanmar dalam beberapa tahun terakhir ‘tidak boleh dirusak’.

Demonstrasi anti-kudeta telah menyebar di seluruh Myanmar sejak militer menggulingkan para pemimpin sipil 1 Februari lalu.

Namun, sebulan warga melakukan demo, junta militer justru kian agresif. Pada Rabu (3/3) lalu misalnya, dunia dibuat gempar lantaran pasukan keamanan masih nekat melakukan kekerasan hingga menembaki para demonstran.

Sementara, sebelumnya, sejumlah negara tetangga termasuk Indonesia, telah menyerukan penghentian kekerasan dan bantuan penyelesaian krisis di Myanmar.

Pada Rabu itu, 38 orang dinyatakan meninggal, termasuk seorang gadis 19 tahun yang tertembak peluru di bagian kepalanya. Karena ini, total warga yang tewas selama demonstrasi akhirnya melambung hingga lebih dari 54 orang, menurut catatan PBB.[Red]

Tinggalkan komentar