Ketum Muhammadiyah Sebut Banyak Masyarakat Yang Abai Prokes Dengan Dalih Alasan Agama

JAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam konferensi pers Munas Tarjih Muhammadiyah XXXI secara daring menyoroti masih banyaknya masyarakat Indonesia abai menjalankan protokol kesehatan pencegahan Virus Corona (Covid-19) yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Bahkan menurutnya, Ada yang berdalih menggunakan alasan-alasan agama untuk melanggar aturan protokol kesehatan yang disusun berdasarkan pada ilmu pengetahuan tersebut.

“Prakteknya masyarakat kita itu ya abai, bahkan ada yang sengaja mengabaikan protokol kesehatan untuk dan alasan apapun. Bahkan ironi kalau pakai alasan agama, gitu ya,” katanya pada, Senin (23/11/2020).

“Jadi kondisi dalam tanda kutip ‘berkebodohan’, tak berdasarkan pada ilmu pengetahuan dan tak berdasarkan pandangan ilmu agama yang maju dan mencerahkan,” imbuhnya.

Haedar juga menyoroti banyak pihak yang masih tak mempercayai sebaran virus Corona di masyarakat. Lebih parahnya lagi, mereka kerap menggaungkan virus Corona sebagai bentuk konspirasi.

Ia juga menyoroti masyarakat yang tak mematuhi pelbagai saran ahli kesehatan maupun epidemiolog dalam menyikapi dan mencegah virus Corona.

“Di era pandemi saja ada yang tak percaya adanya virus ini, bahkan itu menganggap paranoid dan konspirasi macam-macam. Dan tak mau mengikuti saran ilmu pengetahuan, sebagaimana anjuran para ahli,” kata Haedar.

Melihat hal itu, Haedar memandang realitas dan kehidupan masyarakat saat ini tak sepenuhnya mencerminkan kondisi yang maju dan mencerahkan.

Haedar juga menyinggung kondisi dunia saat ini mengalami kerusakan karena instrumen yang dilakukan kerap melalui pendekatan esktrem, baik oleh negara maupun masyarakat. Bahkan, kata dia, terdapat kelompok masyarakat yang senang dengan kondisi esktrem tersebut.

“Kalau mau cara-cara esktrem, ormas keagamaan seperti Muhammadiyah, kami kalau ambil cara esktrem bisa saja. Tapi goncang nanti. Apakah mau Muhammadiyah mengambil cara ekstrem? Jadi ruang ini gak akan kami gunakan, karena ini ga maslahat. Mudaratnya banyak,” tandasnya.

Haedar menjelaskan Muhammadiyah senantiasa menawarkan nilai agama moderat yang maju dan mencerahkan. Hal tersebut menjadi agenda utama meski tak bisa secara instan dilakukan.

“Meskipun panjang perjalanan ini, kami tidak ingin menawarkan agama yang instan,” pungkasnya.

#Ibnu_

Tinggalkan komentar