Opini : DOMINATE THE BATTLE SPACE


Oleh : Zeng Wei Jian

Chakrawala Indo News – Democracy diproteksi “a variety of police control mechanisms”. Government action or inaction trigger krisis. “Arab-spring” contoh government inaction.

“Insurrection Act of 1807″ mengizinkan Presiden Amerika deploy militer “to suppress, in any State, any insurrection, domestic violence, unlawful combination, or conspiracy”. Catet kata “conspiracy”-nya.

Los Angeles 1992. Afro-American Rodney King tewas di tangan 4 polisi kulit putih. Video edited version di-broadcast.

Jelang vonis pengadilan, kepala Latasha Harlins (black) bolong ditembak Ms Soon Ja Du, Korean Shop owner. Blacks & Korean head-to-head. Tegang.

Vonis Kasus Rodney King membuat eskalasi naik. Not guilty. Black community marah. Ternyata hakim & juri dikasi liat video versi full. Publik disuguhi half-truth. Footage Rodney King melawan & menyerang polisi diedit. Publik makan hoax. Ga tau kalau Rodney King teler mariyuana & ngga mau diberhentikan Polantas Highway California.

Pluz kematian Latasha Harlins, Los Angeles di ambang kerusuhan.

Saat vonis dibaca, Mayor Tom Bradley pergi ke Black Church & rilis “Operation Cool Response”. Sebuah “conventional political tactic” meredam frustasi black community. Too late…!! Operasi seperti ini mestinya digelar 4 hari sebelum vonis tak terduga.

LAPD Chief Daryl Gates sama ngga siap-nya. Di hari na’as itu, hanya ada 838 officers on duty di Los Angeles. No civil disturbance equipment, No reserve ammunition, No Riot control plan.

Tiga ribu toko, kantor & business centre hancur dan dijarah; 1.867 di antaranya milik Koreans.

Riot pecah di dua separate vandalism zones. Tiga puluh polisi dilempari batu, puing & improvised missile. Standard riot control doctrine seperti blokade simpang empat, police lock arms & advance, properly equipped riot gear dilakukan. Tapi pukul 05.45 sore, LAPD abandoned the intersection.

Mayor Tom Bradley dan Gubernur California Pete Wilson panik. “Mutual aid system” di-by pass. Langsung menurunkan 4 ribu military forces.

Di hari #3 riot President Bush 41 resmi menurunkan 2023 regular army troops, 1508 marinir dan 1717 other federal law enforcement officers.

Prajurit militer dari Northern California ngga menguasai battle field. Buta arah. Ga disuplai peta wilayah. Military radios were not suited to city environment. Kalkulasi intelijen cacat di sana sini karena mengandalkan sistem manual informer. Troopers ngga bisa mengidentifikasi musuh.

Ketika LAPD request “cover me”, US Marines langsung membrondong 200 pelor ke rumah warga. Vocabulary polisi dan tentara ternyata beda. “Cover me” diartikan marinir sebagai “open fire at once”.

Pemerintah & militer Indonesia lebih siyap. Belajar dari Los Angeles Riot dan Arab-spring.

Pangdam Jaya Mayor Jenderal Dudung Abdurahman turun karena Polda dan Pemerintah Daerah inactive & ngga sanggup “maintenance order”.

Panglima Hadi mempersiapkan strategi “perang kota” & management media-social. Jangan sampai public di-feeding hoax seperti video footage-omitted Rodney King.

Jangan pula mengulang kekacauan verbal antara marinir dan polisi. Tentara harus menguasai medan pertempuran. Seperti kata Secretary of Defense Mark Esper: “we need to dominate the battlespace”.

Teroris & rioters resah. They prefer Indonesia dijaga satpam & hansip. Maximal Satpol PP. Tentara di barak aja. Syahdan, Mereka produksi meme. Olok-olok TNI. Ternyata bukan hanya PKI yang benci & berani ngenyek TNI ya.(ZWJ)

#Ibnu_

Tinggalkan komentar