JAKARTA — Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah mengatakan di saat situasi seperti ini sentuhan BUMN dalam pengelolaan pangan sangat dibutuhkan, apa lagi melibatkan petani dalam pengerjaanya, Maka peran klaster pangan BUMN harus dioptimalkan. BUMN klaster pangan tengah mengupayakan peningkatan hasil pertanian melalui program food estate di Kecamatan Sukamandi, Kabupaten Subang, Jawa Barat di atas lahan seluas 1.000 hektar (Ha) milik BUMN PT Sang Hyang Seri (Persero) yang saat ini tengah berjalan.
Program tersebut bertujuan membangun suatu model budidaya pangan khususnya tanaman padi melalui konsep corporate farming yang efektif dalam meningkatkan produktivitas serta efisien dengan penggunaan sarana produksi pertanian yang tepat dan pemanfaatan teknologi IT.
“Sang Hyang Seri memang ada kerjasama dengan petani juga tapi memang saya kira peran-peran BUMN Pangan dengan situasi yang sekarang itu diperlukan,” ujar Said di kepada wartawan, Selasa (10/92020).
Ia menilai konsep corporate farming yang diterapkan klaster pangan BUMN harus memastikan kemitraan dengan petani memiliki hubungan yang setara dan menguntungkan bagi petani.
“Saya pikir memang kalau toh kerja sama dengan petani memang perlu memastikan kerjasamanya cukup menguntungkan petani dalam arti tidak menempatkan petani sebagai subjek dari food estate itu sendiri, jadi harus setara hubungan itu,” katanya.
Program ini dilaksanakan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Produksi padi yang dihasilkan nantinya akan diolah dipenggilingan, baik penggilingan milik BUMN maupun bermitra dengan penggilingan setempat dalam rangka memberdayakan UMKM dan koperasi tani.
Di sektor hulu BUMN Klaster Pangan akan menggandeng kelompok tani, koperasi tani, dan BUMDES. Sementara di sektor tengah, BUMN klaster pangan dapat memanfaatkan infrastruktur internal dan juga bekerjasama dengan para penggilingan milik kelompok kania tahu BUMDES.
Adapun di sektor hilir, BUMN klaster pangan dapat berperan sebagai offtaker dan pasar bagi produksi sendiri dan produksi para petani dan produsen padi, gabah, serta beras.
Menurutnya, program itu menarik, namun posisi petani ia berharap jangan sampai dianaktirikan atau disub ordinasikan, yang berakibat akan merugikan bagi petani.
“Kalau memang kerja sama yang mau dibangun itu harusnya pada konteks kesetaraan yang cukup baik, jadi bahasa sederhananya didorong model kemitraan yang berkeadilan, jangan sampai malah melemahkan posisi teman-teman petani, seperti kasus yang pernah terjadi,” jelasnya.
Selain itu, dalam konsep corporate farming, guna memastikan hasil yang optimal, proses kegiatan dimulai dengan melakukan uji kondisi tanah, sistem pengairan (irigasi), dan proses budidaya.
Berdasarkan hasil proses analisa dan pengujian tersebut dibuatkan formulasi untuk penggunaan teknologi pupuk, pengaturan pengairan, proses budidaya, penggunaan alat mekanisasi dan penerapan teknologi berbasis IT.
Said mengingatkan, perubahan iklim yang tidak menentu perlu adanya kesiapan penggunaan teknologi sebagai pendukung peningkatan hasil produksi pangan.
“Mengingat juga situasinya kaya sekarang, itu perubahan iklimnya gradual tahun ini kemarau basah, tahun depan jangan-jangan kemaraunya lebih panjang, itu hal-hal yang menurut saya perlu diseriusi dalam konteks kesiapan teknologi dan daya pendukung yang lainya,” pungkasnya.
#Ibnu_

