Sistem Demokrasi Berbahaya Harus Dibentuk Lembaga-lembaga Pengawalnya

JAKARTA_ C.I.New’sMenteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, mengatakan bahwa demokrasi itu sebenarnya berbahaya. Sehingga untuk mengawalnya harus dibentuk lembaga-lembaga seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), hingga pengadilan.

“Demokrasi itu bahaya, demokrasi itu suka menimbulkan massa liar,” ucap Mahfud.

Lebih lanjut, dia menyebut, demokrasi di Indonesia banyak melahirkan massa liar. Hal itu pula yang melahirkan saling fitnah dan kebohongan. Namun, kata dia hal itu sesuai dengan apa yang disampaikan filsuf Plato pada abad ke-5 sebelum Masehi (SM).

“Di Indonesia banyak demokrasi yang menimbulkan massa liar. Menimbulkan permusuhan, saling fitnah, hoax, itu demokrasi kata Plato 5 abad sebelum masehi,” katanya dalam Rapat Koordinasi Pilkada Serentak di Hotel Grand Aston Medan, Sumatera Utara, Jumat (3/7/2020).

Kata dia, Aristoteles memandang demokrasi memunculkan banyak demagog, yakni orang yang jago berpidato dan suka umbar janji.

“Aristoteles itu mengatakan jangan memilih demokrasi. Kenapa? Karena di dalam demokrasi banyak demagog. Tahu demagog? Demagog itu tukang berpidato tapi bohong. Kalau saya nanti terpilih di sini saya bangun jembatan yang bagus zaman Orde Baru ini ceritanya, jembatan yang bagus. Rakyatnya bilang Pak di sini nggak ada sungai. Saya bagun sungai sekalian, itu namanya demagog,” jelasnya.

“Kalau saya terpilih nanti di sini dibangun rumah sakit termegah se-Asia`. Dibangun rumah sakit, tambah mahal sesudah dia terpilih orang berobat tambah mahal. Itu demagog,” sambungnya.

Dia juga menjelaskan bahwa menurut Aristoteles, demokrasi menyebabkan orang jadi narsis. Hal itu terlihat jelas ketika seorang calon selalu memuji dirinya sendiri dalam kampanye.

“Narsis, menganggap dirinya paling baik. Calon gubernur, calon presiden, calon DPR. Namanya Doli Kurnia, hebat, dibuat gambarnya sendiri, dibaca sendiri, dikampanyekan sendiri. Itu namanya narsis,” katanya.

“Mahfud MD, calon presiden keturunan Mak Erot, ditulis sendiri, dikampanyekan sendiri. Saudara akan banyak lihat itu sebentar lagi, di pinggir jalan, spanduk, di televisi,” sambungnya.

Dia menilai hal tersebut merupakan bagian buruk dari demokrasi. Meski demikian, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu menyebut Aristoteles tetap memilih demokrasi. Sesudah diajak diskusi juga, terus gimana pilih negara apa? Pilihannya tetap demorkasi,” tutupnya.

#Ibnu_

Tinggalkan komentar