Pemerintah Siapkan 10 Ribu Tempat Tidur Pasien Covid-19

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto / C.I.New's.
Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto / C.I.New’s.

Jakarta, C.I.New’s – Semenjak wabah virus SARS-CoV-2 atau corona versi 2019 mulai merebak di Indonesia pada Februari 2020,pemerintah secara bertahap menyiapkan infrastruktur kesehatan di seluruh wilayah. Kekuatan sistem kesehatan nasional memang tengah diuji saat pandemi Covid-19 kini sudah terjangkit di 34 provinsi dan 249 kabupaten/kota.
Selama empat bulan terakhir, Pemerintah Indonesia telah menyiapkan sebanyak 10 ribu tempat tidur di 1.000 rumah sakit (RS) khusus untuk menangani pasien Covid-19 di seluruh Indonesia, sekaligus dalam rangka peningkatan kapasitas dan kualitas fasilitas kesehatan.
“Sudah lebih dari 1.000 rumah sakit telah merawat pasien Covid-19, baik yang statusnya terkonfirmasi positif maupun yang masih PDP (pasien dalam pengawasan),” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Senin (27/04/2020).


Lebih dari 1.000 rumah sakit tersebut merupakan gabungan dari rumah sakit pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan juga rumah sakit swasta dan RS TNI-Polri. Dari 10 ribu tempat tidur yang tersedia, ada sekitar 7-8 ribu tempat tidur masih ditempati oleh pasien Covid-19.
Pemerintah juga memastikan kapasitas RS di seluruh Indonesia masih cukup untuk menampung pasien yang terinfeksi virus SARS-CoV-2 dan membutuhkan perawatan layanan kesehatan.

Produksi Alat Tes dan Reagen Sendiri
Hingga saat ini Pemerintah juga terus berupaya memperkuat infrastruktur untuk bisa memproduksi alat tes dan reagen untuk pengujian Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) secara mandiri.
“Ini jadi sesuatu yang penting dan jadi salah satu prioritas pemerintah agar secara mandiri kita nanti menuju ke kemampuan produksi test kit dan reagen sendiri,” kata Yurianto.


Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Indonesia Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan Covid-19 (TFRIC19), sebentar lagi dapat memproduksi sendiri test kit PCR secara mandiri dan sedang diproduksi oleh PT Biofarma, Bandung. Setidaknya 100 ribu alat tes RT-PCR buatan anak bangsa ini sudah bisa didistribusikan di akhir Mei atau awal Juni 2020.
Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 yang juga merupakan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan itu menyampaikan bahwa pemerintah juga terus berupaya melakukan pengujian sampel melalui metode RT-PCR secara masif dan melakukan pelacakan riwayat kontak yang agresif untuk bisa melakukan isolasi setiap orang yang diduga terpapar Covid-19.


Hingga saat ini pemerintah telah melakukan pemeriksaan 75.157 spesimen melalui metode RT-PCR dari hasil pelacakan riwayat kontak pasien positif Covid-19. Pemerintah juga telah mendistribusikan lebih dari 436 ribu reagen RT-PCR ke seluruh daerah di Indonesia untuk mempercepat pengujian sampel secara masif.
“Ini kunci tes kita bisa mencapai 10 ribu lebih pemeriksaan Real Time-PCR setiap hari di seluruh Indonesia. Ini penting agar testing, tracing, treatment, dan ditambahkan dengan trimming movement ini jadi konsep utuh pegangan dalam pelaksanaan penanggulangan Covid-19,” kata Yurianto.

Pemerintah juga tetap melakukan tes skrining dengan metode serologi terhadap lebih dari ratusan ribu orang dalam rangka identifikasi kemungkinan terpapar virus Covid-19 pada orang-orang kelompok kontak dekat. Selain itu skrining juga dilakukan sebagai monitoring petugas kesehatan yang kontak langsung dengan penderita Covid-19.


Pemerintah juga mengawasi ketat daerah-daerah dengan kasus positif tinggi. Dengan upaya itu semua diharapkan dalam waktu bisa menemukan kasus positif dengan cepat di tengah masyarakat, untuk kemudian dilakukan isolasi dan perawatan.
“Penting agar sumber penularan di tengah masyarakat bisa kita batasi, kita isolasi, sehingga kasus penularan lebih lanjut bisa dikendalikan dengan baik,” pungkas Yurianto yang kerap mengendalikan Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes. (Ibn)

Tinggalkan komentar