WHO Tolak Sertifikat Kebal COVID-19

Jakarta C.I.New’s – Organisasi kesehatan dunia, WHO, menolak rencana pembuatan “paspor kekebalan tubuh” atau “sertifikat kebal virus corona” kepada warga sebagai cara untuk melonggarkan karantina wilayah alias lockdown.

Menurut WHO, “belum ada bukti” orang-orang yang membangun antibodi setelah sembuh dari virus corona benar-benar aman dari serangan virus corona untuk kedua kali.

“Saat ini belum ada bukti bahwa orang-orang yang sembuh dari Covid-19 dan memiliki antibody, terlindung dari penularan kedua,” sebut WHO dalam catatannya.

Sebagian besar kajian yang telah dijalankan sejauh ini menunjukkan orang-orang yang telah sembuh dari Covid-19 memiliki antibodi dalam darah mereka—namun sebagian dari mereka punya antibodi berkadar rendah.

Hingga Jumat (24/04), menurut WHO, belum ada kajian yang mengevaluasi apakah keberadaan antibodi pada virus corona menimbulkan kekebalan terhadap penularan virus tersebut untuk kedua kalinya.

“Pada tahap ini, belum ada cukup bukti mengenai efektivitas antibodi untuk menjamin akurasi ‘paspor imunitas’ atau ‘sertifikat bebas risiko’,” sebut WHO.

WHO juga mengatakan rangkaian uji laboratorium untuk mendeteksi antibodi perlu divalidasi lebih lanjut untuk menentukan akurasinya dan membedakan penularan virus SARS-CoV-2—yang menyebabkan Covid-19—dengan enam virus corona lainnya yang terlebih dulu menyebar.

Sebelumnya, Chile menyatakan akan mulai merilis “paspor kesehatan” kepada orang-orang yang dianggap telah pulih dari Covid-19 dan kebal pada virus corona. Begitu antibodi pada tubuh mereka terlacak, mereka bisa bekerja kembali, kata sejumlah pejabat.

Di Swedia, yang memilih membebaskan sebagian besar masyarakat, beberapa ilmuwan meyakini taraf kekebalan tubuh pada penduduk akan jauh lebih tinggi dibanding mereka yang ditempatkan dalam karantina wilayah.

Akan tetapi, Anders Wallensten dari Badan Kesehatan Masyarakat Swedia, mengatakan, kekebalan tubuh belum diketahui secara mendalam.

“Kami akan tahu lebih banyak setelah makin banyak orang yang diuji antibodinya, makin panjang waktunya, dan makin banyak laporan penularan kembali yang dilaporkan,” ujarnya.

Sementara Belgia, yang jumlah kematian per kapitanya salah satu yang tertinggi namun berencana melonggarkan karantina wilayah pada 11 Mei, salah satu penasihat pemerintah mengatakan, dia sangat menentang gagasan paspor kekebalan tubuh.

“Saya menentang pemberian paspor kepada orang-orang, yang hijau atau yang merah, tergantung pada status serum darah mereka,” ujar Professor Marc Van Ranst, pakar virologi sekaligus anggota Kelompok Peninjau Risiko serta Komite Sains mengenai Virus Corona.

“Hal ini akan mendorong pemalsuan, yang membuat orang-orang bersedia menularkan virus pada diri mereka. Ini bukan ide bagus. Ini ide yang sangat buruk.”(Ibn)

Tinggalkan komentar