JAKARTA — Persamaan jurnalis dengan intelijen yang sangat dekat adalah sama-sama memburu informasi. Malah intelijen sering mendomplengi dan berlagak seperti jurnalis dalam kerja-kerja lapangan.
Dulu pada masa konflik Aceh, saat gencar-gencarnya perang antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Republik Indonesia, jumlah intelijen yang “nyambi” sebagai jurnalis hampir sama dengan jumlah jurnalis sungguhan.
Keberadaan intelijen dalam kelompok wartawan dengan mudah dapat terdeteksi oleh kalangan jurnalis sungguhan.
Mereka sering tampak di media center-media center milik pemerintah dan militer, tampilan mereka juga agak sedikit “beda” dengan jurnalis sungguhan, cara mereka menanggapi sebuah peristiwa juga beda, gaya militernya pasti kelihatan. Jurnalis yang jeli pasti mengetahui hal itu.
Tapi bagi masyarakat umum, intelijen yang menyamar sebagai jurnalis ini jarang diketahui, sebab para intel wartawan itu juga membawa kartu pers dari media-media tertentu, bahkan dari media-media ternama milik pemerintah.
Kembali ke inti, mengenai persamaan dan perbedaan jurnalis dengan intelijen adalah keduanya sama-sama bekerja mengabdi. Jurnalis mengabdi untuk kepetngan publik, sedangkan intelijen mengabdi untuk kepentingan bangsa dan negara.
Sedangkan perbedaannya yang sangat mencolok adalah, Jurnalis ketika di lapangan sangat terbuka, sementara intelijen tidak. Dan inilah salah satu hal yang membuat intel yang “nyambi” jadi Jurnalis bisa diketahui kedoknya.
Perbedaan lainnya adalah jurnalis mencari informasi dan menyebarkannya ke publik, informasi yang didapatkannya untuk dijual melalui medianya, baik media cetak, radio, maupun media elektronik.
Sementara intelijen, informasi yang didapatkannya bukan untuk disiarkan, tapi untuk bahan analisa dalam melihat sebuah kasus atau peristiwa.
Secara prinsip intelijen dan Jurnalis mempunyai cara kerja yang hampir sama dalam memperoleh informasi. Kedua profesi tersebut harus dilakukan oleh orang yang cerdas karena bertugas untuk menggali dan menyajikan informasi.
Intelijen mencari informasi secara tertutup, tanpa diketahui sumber informasi bahwa dirinya sedang digali dengan teknik elisitasi (percakapan untuk mencari informasi tanpa disadari sumber informasinya), sedangkan Jurnalis mencari informasi dengan teknik wawancara (percakapan untuk mencari informasi yang disadari oleh sumber informasi).
Jurnalis membuat karya intelijen dengan standard 5W1H (What, who, why, where, when, how), dan ini sama dengan standard laporan-informasi intelijen dengan bahasa yang lebih nasionalis dengan standard SiABiDiBaMe, Siapa, Apa, Bilamana, Dimana, Bagaimana dan Mengapa).
Teknik paling membedakan antara intelijen dan Jurnalis adalah teknik pencarian informasi, intelijen menggunakan elisitasi. Dalam elisitasi maka petugas intelijen biasanya menyamar, menggunakan cover, supaya tidak dikenali oleh sumber informasi (lawan bicara). Percakapan juga dibuat seperti percakapan yang akrab dan menggali informasi dengan sabar, bahkan jika informasi yang didapat hanya sepotong-potong itu adalah hal yang wajar.
Biasanya perlu beberapa kali percakapan dalam sesi dan suasana yang berbeda supaya informasi dapat keluar tanpa disadari oleh lawan bicara. Paling penting adalah sumber informasi tidak boleh tahu bahwa yang mengajak untuk bercakap-cakap adalah petugas intelijen.
Seorang Jurnalis ketika bertemu dengan sumber berita pasti membawa identitas sebagai wartawan (kartu pers), bahkan menyebutkan asal medianya. Tentu ini tidak bisa dilakukan oleh petugas intelijen yang mengaku sebagai intel dan berasal dari satuannya.
Jurnalis melakukan penggalian informasi secara terbuka, sumber berita sangat sadar bahwa lawan bicaranya adalah Jurnalis yang butuh informasi, bahkan kadang tanpa diminta sumber berita malah semangat berbicara dengan tujuan untuk menyebarkan informasi tertentu.
Seorang intelijen mencari informasi hanya untuk user/atasannya saja sesuai TO (Targer Operasi), informasi tidak mungkin disebar selain kepada user, karena akibatnya bisa fatal jika informasi yang diperoleh disebar kepada orang yang tidak berhak. Semua informasi intelijen biasanya mempunyai klasifikasi rahasia.
Seorang Jurnalis mencari informasi untuk media massa yang berarti untuk dipublikasikan bagi seluruh masyarakat. Walaupun informasi tersebut adalah rahasia maka jika sudah berada di tangan Jurnalis dan dimuat di media akan menjadi rahasia umum alias bukan rahasia lagi.

